Advertisement

Dinasti Buwaih, Ke­handalan keluarga Buwaih telah menarik perhatian berbagai penguasa di kawasan Kaspia dan Khurasan, termasuk Samani­yah dan Ziyariyah. Dalam pengabdian me­reka kepada dinasti Ziyariyah tiga saudara tersebut mendapat kepercayaan penuh se­bagai panglima-panglima tentara. Bahkan sejak 933 (321 H) mereka berturut-turut menduduki Isfahan dan Fars, Jibal, Kir­man serta Khuzistan, yang secara adminis­tratif dibagi menurut urutan di bawah.Ali, Hasan dan Ahmad. All bertindak sebagai primus inter pares di Syiraz. Keberhasilan mereka menguasai wilayah-wilayah ini je­las merupakan tantangan langsung terha­dap khalifah Abbasiyah di Bagdad. Me­mang pada 945 (334 H) penguasa Buwaih di Kirman dan Khuzistan, Ahmad, berha­sil menduduki Bagdad. Mengingat peranan komandan-komandan Turki di Bagdad, kedatangan Buwaih sebenarnya tidak ba­nyak mempengaruhi kekuasaan politik riil khalifah yang lemah dan terbatas. Bahkan Ahmad memproldamirkan diri di Bagdad sebagai amir al-umara dengan gelar Mu’iz ad-Daulah yang diterimanya dari khalitah. Juga, Ali ditetapkan posisinya di Fars (berpusat di Syiraz) dengan gelar Imam ad-Daulah, dan Hasan di Jibal (berpusat di Isfahan) dengan gelar Rukn ad-Daulah. Bagaimanapun sebagai saudara tertua Ali kelihatannya tetap diperankan sebagai “yang utama” di antara ketiga saudara ter­sebut. Kekompakan keluarga Buwaih te­rus dipertahankan hingga Hasan — sebagai satu-satunya. yang survive — meninggal pada 977 (367 H). Setelah perebutan ke­kuasaan antara keturunan tiga saudara ter­sebut, akhirnya muncullah Adad ad-Dau­lah bin Hasan (w. 983 (373 H) sebagai penguasa Buwaih terkuat. Pada masanya berbagai aktivitas dan inovasi semakin di­galakkan.

Sebagai penganut Syi`ah Dua Belas, di­nasti Buwaih banyak menghidupkan syiar Syi`ah. Kendati mereka berbuat demikian, khalifah Abbasi tetap dibiarkan menerus­ kan kepemimpinan simbolis bagi umat Islam. Di antara tindakan penguasa Buwa­ih yang menguntungkan kelompok Syi`ah ialah pengadaan upacara keagamaan Syi`­ah secara publik, pendirian pusat-pusat pengajaran Syi`ah di berbagai kota, terma­suk Bagdad, dan pemberian dukungan ter­hadap para pemikir dan penulis Syi`ah. Memang masa kekuasaan Dinasti Buwaih adalah bersamaan dengan bermulanya masa “ketidakhadiran agung”(al-galbah al­kubrii)Imam ke-12. Dan saat itu pula ter­jadi kristalisasi penting dalam periode pembentukan “mazhab Syi`ah.”

Advertisement

Kekuasaan dinasti Buwaih sangat ber­gantung kepada kekuatan militer. Formasi dasar tentara mereka adalah terdiri dari orang-orang Dailam. Tetapi perluasan wi­layah dan pemantapan keamanan yang dijalankan telah mendorong pemasukan unsur-unsur non-Dailam seperti Turki, Kurdi dan Baluci secara besar-besaran. Pe­milahan organisasi tentara berdasarkan asal-usul memang dapat saja dimanfaatkan penguasa Buwaih sebagai mekanisme “pe­redam pengambil alihan kekuasaan.” Na­mun hal ini juga mengandung ancaman terhadap kesatuan tentara sebagai pendu­kung dinasti. Di samping itu, membeng­kaknya tentara juga menambah beban keuangan, sedangkan sistem gaji apanage (hak mengolah tanah; ive) tak lagi men­cukupi. Timbullah sistem baru yang iden­tik dengan “hak mengumpulkan pajak” di daerah-daerah tertentu bagi para koman­dan pasukan. Ketidakterikatan pada ko­mandan dengan daerah pajak akhirnya membawa kepada kemunduran dalam bidang-bidang pertanian, perdagangan dan produksi secara umum.

Periode Buwaihi diwarnai dengan ke­giatan penulisan. Para pemikir penting, di samping pakar-pakar teoris Syi`ah, sempat menuliskan ide-ide mereka. Bahkan Ibnu Sina (w. 1037/428 H) yang filosof dan dokter diberi kepercayaan menjadi wazir oleh Syamsud-Daulah al-Buwaihi (w. 1021/412 H) yang berkuasa di- Isfahan, kendati demikian is masih sempat menulis berbagai karya di antaranya yang terkenal asy-Syife. Memang pada masa Buwaihi se­rentetan nama penulis kenamaan dari berbagai disiplin muncul, umpamanya Ibnu an-Nadim (w. 995/385 H) seorang ensi­klopedis dengan bukunya alFihrti; Ibnu Miskawaih (w. 1030/421 H) filosof-se­jarawan menulis Tajdrib alUmam; Abu al­Faraj al-Isfahani (w. 967/356 H) sejara­wan-sastrawan menulis alAgani; dan Abu al-Wafa an-Nasawi, pakar matematik, memperkenalkan sistem angka India ke dalam Islam. Di samping itu berbagai akti­vitas ilmiah dan kemanusiaan juga digalak­kan dengan dibangunnya peneropong bin-tang dan rumah-rumah sakit di berbagai kota.

Bagaimanapun keberhasilan dinasti Bu­waih memang tidak bertahan lama. Sejak kematian Adad as-Daulah pada 983 (372 H) keutuhan keluarga Buwaih mengalami erosi dan perpecahan. Ide kerjasama yang dikembangkan generasi pertama rupanya tidak mengakar, cabang-cabang keluarga tidak puas dengan otonomi yang dinik­mati bahkan ada yang menginginkan ke­kuasaan tunggal atas seluruh wilayah Buwaihi. Mungkin tendensi demikian me­rupakan perkembangan natural dari upaya individu-individu Buwaihi dalam mengha­dapi perubahan dan tantangan eksternal.

Misalnya, pada perempat akhir abad ke-10, dinasi Fatimiyah telah muncul sebagai ancaman langsung terhadap pengaruh Bu­waihi di barat dan selatan. Di Persia dan Arabia Timur ancaman masing-masing datang dari Samaniyah kemudian Gazna­wiyah, dan Qaramitah. Juga posisi wilayah Buwaihi yang strategis bagi perdagangan antara Timur dan Barat serta Selatan dan Utara kemudian telah dilemahkan oleh politik perdagangan Fatimiyah yang are­sif lewat Laut Merah. Peranan Teluk Per­sia yang pernah dominan menjadi semakin pudar. Kurang berkembangnya pertanian akibat sistem perpajakan yang tidak efi­sien dan eksploitatif, serta turunnya volu­me perdagangan jelas melemahkan sistem ekonomi dinasti Buwaih. Pada gilirannya kelemahan politik, ekonomi, sosial, dan militer telah memudahkan bagi kekuatan­kekuatan baru seperti para pemimpin lo­kal, dan Gaznawiyah kemudian Saljuk untuk merebut kekuasaan. Rayy dan Jibal diduduki Mahmud al-Gaznawi (1029/420 H); Fars diambilalih pemimpin Kurdi, Fa­dluyah (1056/448 H); dan Bagdad oleh Tugril Beg (1055/447 H).

Advertisement