Advertisement

Deoband, Darul Ulum, sebuah lembaga pendidikan Islam di kawasan Saharanpur, India bagian utara. Lembaga ini didirikan pada 1867 sebagai maktab biasa, kemu­dian menjadi terkenal karena peranan tokoh-tokohnya seperti M.Q. Nanotawi, R. A Gangohi, Mahmud al-Hasan dan A.H. Madani dalam memperjuangkan kepen­tingan kaum muslimin di Anak Benua In­dia dengan cara mereka yang khas. Karena peranannya yang demikian lernbaga ini se-ring disebut sebagai “Gerakan Deoband”. Memang, berakhirnya kekuasaan Mugal dan semakin kokohnya posisi lnggris di Anak Benua, telah membuka kesempatan bagi para pemuka muslim seperti ulama Deobarid guna memperluas pengaruh di masyarakat.

Deoband didirikan sebagai kontinuitas tradisi keilmuan claim Islam serta respon terhadap kondisi lokal. Maktab yang mu­la-mula didirikan oleh Abid Husein di Deoband talc berbeda dengan lembaga pendidikan sejenis yang tersebar di kalang­an muslim India kala itu. Karena diorgani­sir di mesjid setempat, kelihatannya mak­tab tersebut lebih ditujukan untuk meme­nuhi kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat sekelilingnya. Hanya setelah 1874, para pengasuh maktab Deoband mendapatkan bantuan termasuk tanah guna mendirikan bangunan khusus untuk pendidikan. Mulai saat itulah Nanotawi dan Gangohi yang lulusan Madrasah Delhi dan pendatang ke Deoband memperkenal­kan sebuah kurikulum standar Dars Niza­miyah. Dengan pengetahuan dan reputasi para pengasuh Deoband serta sistem pen­didikan yang diterapkannya, Deoband menarik minat para pencari ilmu dari luar daerah. Dalam hal ini terlihat bahwa per­kembangan maktab Deoband berkaitan dengan adanya kevakuman fasilitas pendi­dikan akibat mundurnya lembaga-lembaga pendidikan seperti Madrasah Delhi yang terkenal dan langkanya para ulama pendi­dik. Dengan kata lain, partisipasi Nanota­wi dan Gangohi dalam memajukan Deo­band merupakan satu respon dari ulama untuk memberikan arah dan kepemimpin­an bagi sebagian umat. Walaupun para ulama Deoband pada dasarnya tetap menganut mazhab Hanafi, tetapi mereka juga mengembangkan pendekatan yang berorientasi kepada hadis, identik dengan aliran Delhi. Sikap yang demikian telah memberikan kepada Deoband sebuah identitas dan karakteristik yang membeda­kannya dengan lembaga-lembaga Islam yang ada. Keistimewaan ini pada akhir­nya mampu menarik perhatian sebagian anggota masyarakat, terutama pada waktu umat Islam dihadapkan pada pilihan anta­ra kooperasi dan konfrontasi menghadapi penjajah Inggris di Anak Benua.

Advertisement

Para ulama Deoband menolak koopera­si dengan Inggris dan mendukung program kaum nasionalis untuk mendapatkan porsi dan representasi politik yang lebin besar. Melihat aktivitas para tokoh ulama dalam ge rak an-ge rak an se belum ny a, termasuk. pemberontakan 1857, sikap para ulama Deoband yang demikian adalah talc meng­herankan. Namun upaya untuk bekerja sa­ma dengan orang-orang Hindu yang ma­yoritas jelas merupakan suatu langkah Ba­ru. Di pihak lain kritik yang dikemukakan Nanotawi sebagai pimpinan Deoband atas ide dan kooperasi S. Ahmad Khan juga memberikan dukungan penting bagi kaum nasionalis. Semakin populernya para ula­ma Deoband, bahkan sepeninggal Nanota­vvi pada 1880, sebagai rujukan berbagai kalangan muslim dengan fatwa-fatwa me­reka tentunya membawa dampak positif bagi lembaga pendidikan Deoband. Sesuai dengan slogan politik yang dianutnya Deoband menolak ketergantungan cumber pembiayaannya baik dari penguasa mau­pun para individu kaya. Ia hanya meneri­ma sumbangan yang talc mengikat. Me­mang setelah empat dasa warsa semenjak didirikannya, Madrasah Deoband sendiri tidak banyak menunjukkan kemajuan, se­hingga bisa dilihat bahwa pada 1907 jumlah muridnya tak lebih dari 300. Namun coraknya yang khas dan didirikannya cabang-cabang di tempat lain, khususnya oleh para alumni Deoband telah mengang­kat pamor Deoband dan memenangkan dukungan cukup luas di kalangan muslim di Anak Benua.

Para ulama Deoband ikut berperan da: lam pergolakan menentang dominasi Ing­gris. Semenjak berperannya Mahmud al­Hasan sebagai kepala Madrasah Deoband pada 1905, upaya untuk memperjuang­kan nasib umat menjadi semakin menon­jol. Hal ini terlihat dari upayanya men­jembatani gap antara kaum ulama tradi­sional dan cendekiawan yang berpendidik­an umum dengan mendirikan Nizarat al­MaTirif al-Qur`eniyah. Kendatipun lemba­ga ini tidak lama bertahan, namun ide ter­sebut telah memudahkan kerja sama anta­ra dua kelompok itu menghadapi isu-isu yang timbul. Berkenaan dengan upaya kaum muslimin untuk melindungi Tanah Suci akibat berkobamya Perang Dunia I, ternyata kaum terpelajar dan ulama mam­pu bersama-sarna mendirikan Badan Peng­abdi Ka’bah (Majlis Khudam al-Karbah Untuk hal ini bahkan Mahmud al-Hasan sendiri pergi ke Hijaz guna membina ker­ja sama dengan penguasa Usmani di sana. Karena kegiatannya is pun ditangkap Ing­gris dan diasingkan ke Malta untuk bebe­rapa lama. Sekembalinya ke India, bersa­maan dengan meluapnya semangat kaum muslimin mempertahankan lembaga ke­khalifahan dan gerakan non-kooperasi kaum nasionalis, Mahmud al-Hasan pun ikut aktif menggerakkan umat. Memang “Gerakan kekhalifahan” tersebut gagal terbukti dengan dihapuskannya lembaga kekhalifahan oleh pernimpin Turki pada 1924; tetapi Inibungan dan kerja sama yang terbina dengan kaum nasionalis terus mengilhami aspirasi politik para tokoh Deoband serta sejumlah figur yang lain. Keterikatan ini bertahan hingga dikete­ngahkan paham do qaum nazariyah (teori dua tatanan kenegaraan) dan direalisasi­kannya dengan pembentukan Pakistan dan India. Gerakan Deoband sampai Ba­tas tertentu mampu melegitimasi dukung­an kelompok Islam terhadap berdirinya negara India yang mayoritas Hindu. Sam­ pai kini Deoband terus berperan menye­diakan fasilitas pendidikan sampai tingkat tinggi serta bimbingan keagamaan bagi orang-orang Islam di India.

 

Advertisement