Advertisement

Darus Sulh berasal dari bahasa Arab, yang berarti daerah, wilayah, atau negeri damai. Dalam istilah hukum Islam, Darus-sulk berarti daerah,.wilayah, atau negeri yang berpenduduk dan berpe­merintahan bukan Islam, tetapi telah mengadakan perjanjian damai dan persa­habatan dengan negara Islam, baik dengan

perjanjian untuk saling tolong-menolong, saling melindungi atau lainnya. Mereka itu tidak boleh dimusuhi atau diperangi, bah­kan mereka harus diperlakukan sebagai sa­habat karib. Dengan adanya perjanjian tersebut, maka darus-sulh itu dinamakan juga Dar al-Ahd, yaitu daerah, wilayah atau negara yang berpenduduk dan ber­pemerintahan bukan Islam, yang terikat perjanjian damai dengan negara Islam.

Advertisement

Islam mengajarkan, bahwa perjanjian harus ditaati, baik perjanjian dengan Tu­han, maupun perjanjian dengan sesama manusia. Kaum muslimin wajib menerima perjanjian damai, apabila musuh meminta­nya. Perintah untuk menerima perjanjian damai itu dinyatakan dalam al-Quran, su­rat al-Anfal, ayat 61-62:

“Dan jika mereka (kaum musyrikin) condong kepada perdamaian, hendaklah kamu (juga) condong kepadanya, dan ber­tawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dia-lah yang memperkuatmu dengan per­tolongan-Nya dan dengan para mukmin.”

Dalam hukum Islam disebutkan, bahwa perjanjian damai wajib ditaati apabila me­menuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Isi perjanjian tidak bertentangan de­ngan hukum Islam.
  2. Perjanjian dilakukan atas dasar kerelaan masing-masing pihak, tanpa ada paksa­an dari pihak lain.
  3. Isi perjanjian harus jelas, tidak bisa di­tafsirkan dengan penafsiran-penafsiran lain.

Pembatalan atas perjanjian damai hanya bisa terjadi apabila telah habis masa berla­kunya perjanjian damai tersebut, atau di­sebabkan karena pengkhianatan yang dila­kukan oleh pihak musuh. Hal ini ditegas­kan dalam al-Quran sebagai berikut:

“Maka selama mereka berlaku lurus ter­hadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka.” (at-Taubah: 7).

“Dan jika kamu mengetahui peng­khianatan dari suatu golongan, maka kern­balikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur, karena sesungguh-nya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (al-Anfal: 58).

“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak perjanjiannya, padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul, dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu.” (at-Taubah: 13).

Diantara perjanjian-perjanjian damai yang dilakukan oleh Rasulullah ialah:

  1. Perjanjian damai dengan orang-orang Nasrani dari daerah Najran. Dalam per­janjian tersebut mereka akan memper­oleh jaminan perlindungan, kebebasan individu, kebebasan untuk menjalankan agamanya, jaminan memperoleh keadil­an serta mendapat perlindungan dari kelaliman. Perjanjian damai tersebut berlangsung terus-menerus. Di masa pe­merintahan Harun ar-Rasyid, timbul keinginan untuk membatalkan perjanji­an tersebut, tetapi kemudian keinginan tersebut diurungkan, setelah Harun ar-Rasyid mendapat nasihat dari Mu­hammad ibnu al-Hasan, murid Imam Abu Hanifah.

Adapun isi perjanjian damai dengan orang-orang Nasrani di daerah Najran tersebut ialah: bahwa pemerintah Islam akan menjamin dan melindungi hak-hak penduduk Najran. Pemerintah Islam ti­dak akan mengganggu uskup-uskup me­reka, pastor-pastor mereka dan kahin­kahin mereka. Mereka tidak akan diper­lakukan secara hina, dan tidak akan dibunuh seperti dilakukan oleh orang­orang Jahiliyah. Mereka tidak akan diru­gikan dan dipersulit dalam kehidupan mereka. Tidak akan ada pasukan mus­lim yang menguasai daerah mereka. Mereka tidak akan diperlakukan secara lalim dan aniaya.

  1. Perjanjian damai dengan kaum musyri­kin Mekah. Perjanjian ini terkenal de­ngan nama “Perjanjian Hudaibiyah”. Perjanjian tersebut berlangsung bebera­pa tahun setelah perang Ahzab. Sudah enam tahun lamanya kaum muslimin berhijrah ke Madinah, karena itu mere­ka merindukan kampung halaman, me­rindukan keluarga yang ditinggalkan di Mekah, serta merindukan untuk dapat

menziarahi Ka’bah. Maka dalam bulan­bulan suci, yang mereka dilarang untuk berperang, Rasulullah mengizinkan me­reka pergi ke Mekah. Tetapi kaum Quraisy menyangka bahwa mereka da­tang ke Mekah untuk berperang. Kare­na itu kaum Quraisy berusaha untuk menghalang-halangi mereka dengan mengirimkan sepasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Te­tapi Usman bin Affan berhasil mene­nangkan dan melunakkan hati mereka terhadap kaum muslimin.

Maka dilangsungkanlah perundingan antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Dalam perundingan tersebut kaum musyrikin Quraisy berke­ras dalam pendirian mereka, yaitu kaum muslimin harus kembali ke Madinah, se­bab dengan masuknya kaum muslimin ke Mekah, prestise orang Quraisy akan jatuh, dan bangsa Arab yang lain akan mence­moohkan mereka.

Nabi menyetujui prinsip tuntutan kaum musyrikin Quraisy tersebut, sehingga perundingan selanjutnya dapat dilangsung­kan. Perundingan tersebut berhasil mem­peroleh kesepakatan, yang kemudian dike­nal dengan “Sun” alHudaibiyah” (Kese­pakatan Hudaibiyah). Adapun isi pokok kesepakatan tersebut adalah sebagai ber­ikut:

  • Perletakan senjata antara kedua be­lah pihak selama sepuluh tahun.
  • Orang Quraisy muslim yang datang kepada kaum muslim dengan tidak seizin walinya hendaklah ditolak oleh kaum muslimin.
  • Orang Quraisy tidak menolak orang muslim yang kembali kepada mere­

Kaum muslimin tidak jadi mengerja­kan umrah pada tahun ini, akan te­tapi ditangguhkan sampai tahun depan.

 

Advertisement