Advertisement

Darurat berarti keadaan yang mendesak, yang membuat seseorang, jika tidak mela­kukan atau memakan apa yang terlarang, keselamatan jiwanya akan terancam. Da-lam kondisi ini berlaku kaidah hukum fi­kih yang berbunyi: Keadaan darurat menghalalkan hal-hal yang terlarang.

Agama Islam diturunkan Allah bukan­lah untuk membuat hidup hambanya sem­pit, sehingga dengan melaksanakannya akan timbul efek negatif atas diri mereka. “Allah tidak menjadikan sesuatu kesulitan atas katnu sekalian dalam agama ini,” de­mikian ditegaskan Allah dalam surat al­Hajj ayat 78. Dan dalam surat at-Tagabun ayat 16 dijelaskan lagi: “. . . bertakwalah kepada Allah sebisa-bisa kamu.” Demikian di antara asas-asas pembinaan hukum Is­lam. Allah senantiasa meniadakan dan menghindarkan kesempitan dan kesukar­an dari hambanya. Rasulullah sendiri da­lam sebuah hadis mengajarkan bahwa se­seorang apabila dihadapkan kepada dua hal, maka ia memilih yang lebih mudah selama hal itu tidak mengandung dosa. Bertolak dari landasan inilah diperlakukan hukum darurat dalam hukum Islam.

Advertisement

Hukum Islam, sifatnya berlaku untuk umum. la bukan ditujukan kepada se­orang saja, dan bukan pula hanya untuk satu waktu dan satu tempat. Akan tetapi ia ditujukan kepada seluruh orang, di se­luruh waktu dan di seluruh tempat. Se­orang mukallaf (yang diberi kewajiban) dalam menjalankan hukum-hukum yang untuk berlaku secara umum itu di satu ke­tika mungkin menemui kesukaran-kesu­karan. Sedangkan sikap tidak mau beran­jak dari ketentuan-ketentuan itu akan menimbulkan ekses-ekses yang menimbul­kan mudarat dan merugikan. Maka untuk jalan keluarnya Islam perlakukan hukum darurat, di saat mana seorang mukallaf tidak lagi harus terikat dengan ketentuan­ketentuan yang berlaku secara umum itu. Maka hukum darurat berfungsi menge­cualikan suatu hukum dari ketentuan­ketentuan hukum yang berlaku secara umum. Beberapa ayat al-Quran menegas­kan hal ini, antara lain surat al-Baqarah ayat 172, surat al-Maidah ayat 3 dan surat an-Nahl ayat 115. Ayat-ayat tersebut pada umumnya mengemukakan larangan me­makan bangkai, darah, beberapa macam daging dan beberapa cara sembelihan yang tidak dibolehkan orang Islam memakan­nya. Dari hal-hal yang dilarang itu ada yang dikecualikan apabila seseorang.ber­ada dalam keadaan darurat, atau di waktu terdesak untuk melakukan atau memakan­nya.

Hukum darurat tidak terbatas pada pe­ngecualian yang nyata ditegaskan dalam ayat-ayat tersebut, tetapi berlaku untuk setiap keadaan darurat. Datangnya ayat­ayat memang hanya mengenai makan saja. Itu hanyalah merupakan contoh praktis dari suatu prinsip umum. Oleh sebab itu hukum darurat selalu siap untuk meng­atasi setiap bentuk darurat yang muncul, sehingga seorang mukallaf terhindar dari kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul dalam menjalankan titah Allah.

Seperti halnya darurat bisa menggugur­kan taklif (kewajiban), alhajat (kebutuh­an) jugs bisa meringankan hukum. Bahkan di satu ketika, seperti disimpulkan oleh ahli-ahli hukum Islam, ia bisa menempati hukum darurat dalam menggugurkan taklif, apabila kebutuhan itu bersifat umum. Al-hajat ialah suatu kebutuhan, yang apabila seseorang tidak memperolehnya, akan menimbulkan kesulitan, tetapi jiwanya tidak sampai terancam seperti dalam keadaan darurat. Kesulitan yang bisa menimbulkan keringanan itu, seperti dikatakan Imam asy-Syatibi dalam al­Muwfffaqat-nya, ialah suatu kesulitan yang luar biasa, yakni kesulitan yang nielebihi dari yang lazim didapati pada suatu peker­jaan wajib (taklif), sehingga bisa menim­bulkan efek negatif terhadap dirinya.

Hukum darurat dan rukhsah (keringan­an) disyariatkan untuk memberikan jalan keluar bagi seorang mukallaf yang dalam menerapkan sesuatu hukum Allah mung­kin mengalami kesukaran. Dengan demi­kian hukum darurat bukanlah merupakan izin bebas, tetapi terikat pada pembatas­an-pembatasan yang telah ditentukan. Da-lam hal pembatasan itu al-Quran menegas­kan: “. . . siapa yang dalam keadaan ter­paksa, sedangkan ia tidak menginginkan dan tidak pula melampaui batas, maka tiada dosa baginya (melakukan yang ter­larang).” (2:173). Kata-kata “tidak meng­inginkan dan tidak pula melampaui batas” dalam ayat itu, seperti ditafsirkan oleh Ibnu Jarir at-Tabari, mengandung arti ti­dak mempunyai keinginan untuk mema­kan yang haram itu- seandainya ia tidak dalam keadaan terdesak dan tidak pula ada maksud untuk melewati batas dengan terus memakan yang haram itu.

Hukum darurat adalah hukum semen­tara, sesuatu yang dibolehkan karena ada sesuatu desakan. Hukum pembolehan itu akan berakhir dengan berakhirnya hal yang mendesak. Demikian pula kadar yang dibolehkan itu terbatas sekedar me­lepaskan din dari desakan atau kebutuhan itu. Apabila berlebih dari kadar yang di­perlukan itu, maka hukumnya kembali ke­pada keadaan sebelum adanya darurat.

Advertisement