Advertisement

Darul Harb berasal dari bahasa Arab dar alharb, yang berarti daerah, wilayah atau negara musuh. Menurut istilah fikih, Darul harb ialah daerah, wilayah atau negara yang berada dalam status peperangan atau bermusuhan dengan negara Islam. Rakyat dan pemerintahnya mengganggu, menghasut, memfitnah, bahkan memaksa kaum muslimin untuk meninggalkan aga­manya. Golongan ini oleh Islam dianggap musuh. Kaum muslimin diizinkan mela­wannya sampai mereka tunduk atau tidak bermusuhan lagi. lslam menghendaki terwujudnya negara yang seluruh pendu­duknya merasa aman dan tenteram. Se­tiap pemeluk agama Allah terlindungi, baik dalam beribadat, maupun dalarn per­gaul an hidup bermasyarakat.

Perkataan dar al-harb tidak terdapat di dalam al-Quran, tetapi hanya terdapat di dalam hadis. Dalam kitab Sahih al-Bukha­ri, dalam bab yang berjudul “Apabila seseorang masuk Islam di Dar al-harb”, Imam Bukhari menyebutkan dua buah kota yang penting, yaitu Mekah dan Rabda! Kedua daerah ini pernah meng­alami peperangan antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Dalam hubungan inilah al-Bukhari menyebutkan kedua daerah tersebut pada masa Rasulul­lah hijrah di Madinah, sebagai dar al-harb, yaitu daerah musuh yang harus diperangi, karena kaum musyrikin penduduk kedua daerah tersebut mengganggu, menyiksa, menganiaya, mengusir dan menghalang­halangi kaum muslimin menjalankan iba­dat, serta memaksa mereka untuk mening­galkan agamany a. Karena itulah Rasulul­lah menganggap mereka sebagai musuh Islam, dan kaum muslimin diperbolehkan mengangkat senjata, dan mengumumkan perang kepada mereka, selarna perbuatan mereka yang keji itu masih rnereka laku­kan, sehingga tercapai keamanan dan ke­sentausaan bagi kaum muslimin dalam menjalankan ibadat serta melaksanakan aj aran agam any a.

Advertisement

Islam tidak mengizinkan perang tanpa sesuatu sebab. Perang hanya diizinkan apabila tujuan utamanya adalah untuk membela, memelihara dan meninggikan agama Allah. Islam tidak membenarkan berperang kecuali karena sebab-sebab un­tuk menolak kelaliman, untuk menghor­mati tempat-tempat ibadat, untuk menja­min kemerdekaan bertanah air, untuk menghilangkan fitnah, dan untuk men­jamin kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan agamanya.

Dalam hadis dijelaskan, bahwa berpe­rang karena tujuan ingin memperoleh harta rampasan, atau karena ingin menun­jukkan sifatnya yang gagah berani, atau karena ingin memperoleh kemegahan dan kebanggaan, atau berperang karena rasa dendam dan amarah, semua itu tidak ter­masuk berperang yang diizinkan oleh Tuhan.

Di dalam al-Quran, terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa tuhan mengizin­kan berperang karena beberapa sebab, seperti yang” disebutkan dalam surat al­Hajj, ayat 39 — 41: “Telah diizinkan (ber­perang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah di­aniaya. Dan sesungguhnya Allah adalah Maha Kuasa menolong mereka itu. (Ya­itu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berka­ta: Tuhan kami hanyalah Allah. Sekira­nya Allah tiada menolak (keganasan) seba­gian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah.iba­dat orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, bah­wasanya Allah sungguh Malia Kuat lagi Maha Perkasa. Orang-orang yang jika Ka­rni teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kem­bali segala urusan.” Dan dalam surat al­Baciarah, ayat 193 disebutkan: “Dan pe­rangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi, sehingga agama itu hanya un­tuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yanglalim.”

Karena itu jelaslah, bahwa penduduk darul harb, tidak boleh diperangi tanpa sesuatu sebab yang dibenarkan oleh Tu­han. Perang hanya boleh dilakukan untuk membela diri dari serangan mereka, dan untuk menghentikan kelaliman yang mereka lakukan. Apabila mereka telah menghentikan serangan dan kelalimannya, dan tidak membuat fitnah dan kekacauan lagi, maka mereka tidak boleh diperangi lagi. Peperangan tidak boleh dimulai atau diteruskan lagi, kecuali apabila mereka kembali melakukan perbuatan-perbuatan fitnah dan aniaya, mengganggu dan me­rampas kemerdekaan orang untuk meme­luk dan menjalankan agamanya.

Islam membolehkan perang melawan negara musuh (darul harb) hanyalah sebagai hal yang darurat, karena itu tidak boleh melampaui batas. Islam melarang membunuh, kecuali musuh yang benar­benar terlibat dalam peperangan. Orang yang tidak terlibat dalam peperangan di­larang dibunuh. Karena itu Islam mela­rang pasukan-pasukan Islam membunuh wanita-wanita, anak-anak kecil, orang­orang yang sakit, orang-orang yang pikun, para pendeta, dan sebagainya. Islam juga melarang merusakkan tempat-tempat iba­dat (gereja, dan sebagainya), merusakkan tanam-tanaman, merobohkan rum ah-ru­mah, dan membunuh binatang-binatang.

Khalifah Abu Bakar pernah berwasiat kepada Usamah ketika is dilantik men­jadi pemimpin pasukan Islam untuk me­lawan kaum musyrikin di Siria “Jangan­lah kalian berkhianat, janganlah sombong, janganlah membelot, dan janganlah mem­bunuh anak-anak kecil atau orang-orang tua, dan janganlah membunuh wanita­wanita. Jangan membakar dan memotong pohon-pohonan, dan janganlah sembelih kambing, sapi dan unta, kecuali untuk di­makan dagingnya.”

 

Advertisement