Advertisement

DAM adalah denda karena melanggar suatu kewajiban dalam ibadat haji atau umrah. Ada beberapa hal yang mewajibkan seseorang membayar dam (denda) dalam mengerjakan ibadat .haji atau umrah:

  1. Melanggar larangan-larangan ihram, yai­tu: memakai pakaian bedahit bertang­kup, seperti memakai baju atau sepatu yang menutupi dua mata kaki, memo­tong kuku, menghilangkan sekurangnya tiga helai rambut dan memakai harum­haruman. BarangsiaPa yang melanggar salah satu dari larangan-larangan terse­but, ia wajib membayar dam. Damnya boleh dipilih salah satu dari tiga yang berikut: menyembelih seekor kambing yang sah untuk dikurbankan, berpuasa tiga hari, atau bersedekah memberi ma­kan enam orang muslim. Dalam al-Qur­an surat al-Baqarah ayat 196 dijelaskan bahwa siapa yang sakit boleh memakai hal-hal yang terlarang itu dengan keten­tuan kewajiban berpuasa, atau bersede­kah makanan atau menyembelih kam­bing.

Dalam sebuah hadis yang diriwayat­kan oleh Muslim dijelaskan bahwa ada seorang yang datang kepada Rasulullah yang menyatakan bahwa kq>alanya sa­lcit sedang ia dalam keadaan berihram untuk haji. Lalu Rasulullah menyuruh­nya mencukur kepalanya dengan ke­wajiban menyembelih seekor kambing atau berpuasa tiga hari atau sedekah tiga sa’ (sekitar 9 liter) makanan. Hadis tersebut menjelaskan maksud ayat se­belumnya yang mengandung hukum membayar dam secara global. Mengerjakan haji tamattu atau haji qi­ran. Haji tamattu ialah melakukan um­rah lebih dulu di musim haji kemudian tahallul (melepaskan pakaian ihram) dan berdiam di Mekah sampai tanggal haji tiba untuk selanjutnya melakukan haji. Disebut haji tamattu karena bisa bersenang-senang dalam keadaan bebas dari ihram selesai umrah menunggu tanggal memulai ibadat haji.

Advertisement

Haji seperti ini boleh dilakukan de­ngan kewajiban membayar dam, yaitu: menyembelih seekor kambing. Dalam hal tidak mampu, seseorang boleh menggantinya dengan puasa tiga hari di tanah suci dan tujuh hari setelah sampai di tanah air. Hal ini dijelaskan dalam ayat 196 surat al-Baqarah.

Adapun haji qiran ialah melalcsana­kan haji bersama-sama dengan umrah dengan satu niat. Haji seperti ini boleh dilakukan dengan kewajiban membayar dam, dikiaskan (disamakan) dengan haji tamattu.

  1. Bersetubuh sebelum selesai mengerja­kan haji. Denda yang dibebankan ialah menyembelih seekor unta. Jika tidak didapati, boleh ditukar dengan seekor sapi, dan selanjutnya jika tidak didapa­ti juga, boleh ditukar dengan tujuh ekor Jika semuanya tidak diper­oleh, maka diganti dengan membayar nilai seekor unta yang disedekahkan ke­pada fakir miskin, di tanah suci. Jika makanan tidak diperoleh, denda boleh dibayar dengan puasa. Tiap-tiap seper­empat sa’ (sekitar 3/4 liter) dari harga unta tersebut, dibayar dengan sehari puasa.
  2. Denda disebabkan membunuh binatang buruan (liar). Seseorang dalam keadaan ihram dilarang membunuh binatang bu­ruan. Apabila larangan itu dilanggar, ia wajib membayar dam, dengan menyem­belih binatang ternak yang semisal (hampir serupa) dengan binatang buru­an yang terbunuh itu. Umpamanya me­nyembelih seekor kambing sebagai den­da dari membunuh seekor kijang. Jika binatang ternak yang semisal dengan­nya tidak didapati, maka dendanya bo­leh diganti dengan membayar nilai harganya yang disedekahkan kepada fakir miskin. Jika tidak mampu membayar nilainya, wajib berpuasa. Tiap-tiap seperempat (3/4 liter) makanan dari nilai binatang itu dibayar satu hari puasa.
  1. Meninggalkan sesuatu yang wajib dila­kukan dalam ibadat haji, seperti tidak melontar jumrah, tidak memulai ihram dari miqat (tempat yang telah ditentu­kan untuk memulai melakukan ihram), tidak bermalam di Muzdalifah, dan ti­dak bermalam di Mina. Orang yang me­ninggalkan kewajiban-kewajiban terse­but wajib membayar dam yang disama­kan dengan dam haji tamattu, yaitu me­nyembelih seekor kambing, atau jika tidak mampu, boleh ditukar dengan berpuasa sepuluh hari; tiga hari di tanah suci dan tujuh hari setelah sampai di ta­nah air.
  2. Terhalang (terkepung) melangsungkan pekerjaan haji. Umpamanya ia terke­pung oleh musuh sehingga tidak dapat melanjutkan pelaksanaan haji sedang ia sudah dalam keadaan ihram. Maka hen­daklah ia membuka ihramnya dengan ketentuan membayar dam dengan me­nyembelih seekor kambing.

Dari bermaccam-macam bentuk dam dan penyebabnya tersebut diatas dapat dipahami bahwa kewajiban membayar dam ada yang berupa denda karena me­langgar sesuatu larangan atau meninggal­kan suatu kewajiban dan ada pula karena memilih suatu bentuk ibadat haji yang ku­rang afdal bila dibandingkan dengan ben­tuknya yang lain. Umpamanya melakukan haji tamattu dan haji qiran, dan bukan haji ifrad (lihat haji). Yang disebut ter­akhir ini adalah lebih afdal.

Pembayaran dam, di samping merupa­kan imbangan dari kekurangtn-kekurang­an yang terdapat dalam pelaksanaan haji atau umrah, juga mengandung arti sosial. Dengan adanya pembayaran dam itu, umat Islam yang berkekurangan, baik yang kebetulan berada di tanah suci, mau­pun yang sedang dalam keadaan musafir berdatangan dari berbagai pelosok dunia di musim haji, tidak kekurangan makanan.

 

Advertisement