Advertisement

Dakwah (Da`wah), di samping arti po­puler yang dimilikinya yaitu “ajakan ke­pada Islam” (Quran, 16:125) sering juga dihubungkan dengan gerakan politik ke­agamaan yang terorganisir. Hal ini terbuk­ti dari timbulnya gerakan-gerakan klasik semacam Abasiyah dan Fatimiyah.

Keberhasilan Bani Abbas mengguling­kan khalifah Umawi pada 749 (123 H) terutama berkat topangan gerkan mereka (adda`wah alAbbasiyah). Dalam waktu hampir tiga dasa warsa, secara gigih Bani Abbas di bawah pimpinan Muhammad bin Ali (w. 743/125 H), menanamkan doktrin akan berhaknya mereka sebagai keluarga Nabi (Ali Muhammad) untuk mengambil tampuk kekuasaan dari tangan Bani Umayyah. Upaya mereka direalisir lewat pembentukan ikader-kader gerakan (duVh jamak dari da`i) yang disebar ke berbagai wilayah dengan konsentrasi di bagian ti­ mur khalifah Umawi. Untuk menepat-gu­nakan kerja para dai, di tempat-tempat tertentu yang dianggap strategis dan pen­ting pimpinan lokal pun dibentuk yang bertugas mewakili pirnpinan pusat (imam atau stihib adda`wah). Kelebihan dan manfaat gerakan ini (dakwah) adalah ter­utama terletak pada kemampuannya seca­ra tertutup dan rahasia menggalang peng­ikut setia dan kader-kader gerakan.

Advertisement

Namun keberhasilan Bani Abbas ini ju­ga mengilhami lawan politik mereka Bani Fatimah untuk menempuh jalan yang hampir identik, yaitu pola dakwah, guna membangun entitas politik terpisah bah­kan mengancam raison d’etre dan keber­adaan khalifah Abbasiyah sendiri. Kalau Bani Abbas memfokuskan dakwahnya di belahan timur wilayah Umawi, maka Bani Fatimah merekrut pengikut di Afrika Uta­ra di antara suku-suku Barbar. Hal ini ti­dak berarti bahwa Bani Fatimah tidak berusaha memenangkan pengikut dan me­nyebarkan ajaran mereka di kawasan-ka­wasan lain. Dengan menggunakan para dai yang direkrut terutama di Yaman dan Siria, ajaran-ajaran yang dikembangkan Bani Fatimah (Syrah Islamiliyah) berhasil dianut oleh berbagai kelompok.

Setelah jatuhnya Bani Fatimah (1173/ 569 H), istilah dakwah tak pernah dipakai lagi secara eksplisit sebagai gerakan politik melawan rezim berkuasa. Ini tidak berarti bahwa perk ataan dakwah hilang dari per­edaran. Kata itu tetap dan kembali dipa­kai dalam kontek yang lebih agamais ya­itu mengajak umat manusia kepada jalan Allah. Ia juga sering diidentikkan dengan “Mengajak kepada kebaikan dan meng­hindari keburukan” (alamrwannahy ‘an almunkar).

 

Advertisement