Advertisement

Bilal bin Rabah (581-644/42 SH —20H) adalah seorang sahabat dan kesa­yangan Rasulullah. Ia seorang hitam turun­an Habsyi, yang pada mulanya berada di Mekah sebagai budak Umayyah bin Kha­laf. Karena diketahui tertarik kepada Islam yang baru disiarkan secara diam­diam oleh Nabi Muhammad ia disiksa oleh tuannya dengan kejam sekali, dijemur di atas pasir panas di bawah teriknya mata­hari, bahkan dihimpit dengan batu besar. Dalam keadaan terhimpit batu besar itu, dengan mulut yang masih berkomat-kamit mengucapkan “ahad” (esa) terus menerus, Abu Bakar Siddin, sahabat Nabi, datang menawar dan membelinya pada Umayyah bin Khalaf. Dengan pembelian itu Abu Bakar Siddiq dapat membebaskannya dari siksaan dan selcaligus dari status budak.

Sejak azan disyariatkan, Bilal bin Ra­bah — karena kemerduan suaranya selalu disuruh Rasulullah untuk mengumandang­kan azan, setiap kali datang waktu salat wajib yang lima, sehingga melekatlah pada dirinya gelar muaiiin Rasiilillah.(muazziti artinya pemberi tahu, pengumandang azan, atau tukang azan). Khalifah Abu Ba­kar pun tetap menunjuknya sebagai muaz­zin di Madinah, dan tidak mengizinkannya ikut berperang ke Syam. Izin ikut berpe­rang ke Syam itu baru diperolehnya dari Khalifah Umar bin Khattab, dan ternyata ia wafat di Damaskus.

Advertisement

Karena sangat masyhurnya Bilal bin Ra­bah itu sebagai muazzin yang bersuara merdu, maka kata “bilal” sering dipakai di negeri kita dengan arti muazzin.

 

Advertisement
Filed under : Review,