Advertisement

Bid’ah menurut bahasa ialah mengada­kan sesuatu yang tidak berdasarkan con­toh yang sudah ada. Menurut istilah meng­ada-adakan sesuatu dalam agama yang tidak ada keterangannya dalam al-Quran dan sunnah. Aisyah menyebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama, maka ia ditolak, tidak diterima dan bid’ah namanya.” (Bukhari dan Mus­lim).

Dalam al-Quran pernah disebut tentang bid’ah tercela yang pernah dilakukan umat sebelumnya, seperti celaan terhadap ahlul-kitab, karena mengada-adakan rah­baniyah (lihat surat al-Hadid: ayat 27), yaitu suatu peraturan kependetaan, seper­ti mengurung diri dalam biara dan dilarang kawin, padahal aturan begitu tidaklah da­tang dan Allah.

Advertisement

Contoh yang sering terdapat dalam ma­syarakat Islam ialah, suatu praktek yang biasa dilakukan dalam usaha menghampir­kan din kepada Allah perantaraan seorang guru yang dianggap sudah hampir kepada tuhannya, dengan cara menemukan da­hi seorang murid ke dahi sang guru itu, sambil yang terakhir ini menarik napas dalam-dalam dengan niat untuk menarik hakikat ruh si murid untuk ikut bersama hakikat ruhnya pergi mendekati Allah. Dengan cara itu menurut keyakinannya seorang murid akan mudah dan lekas sam­pai kepada tuhannya. Cara amalan yang demikian sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam dan jelas mengada-ada, bid’ah namanya dan tidak dibenarkan melaku­kannya.

Adapun membuat sesuatu yang baru dalam urusan keduniaan, seperti usaha­usaha atau amal-amal sosial yang dibutuh­kan dalam kehidupan masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip umum keagamaan, dan di luar cara, ben­tuk dan upacara ibadat, tiadalah terlarang bahkan terpuji, karena hal-hal yang demi­kian diserahkan mengaturnya kepada ma­nusia yang ahli. Rasulullah pernah bersab­da: “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” Maka cara orang mengerjakan sawah ladangnya secara baru dinamakan juga bid’ah, tetapi bid’ah hasanah, yakni terpuji, benar melakukannya.

 

Advertisement