Advertisement

Batal dalam hukum fikih lawan dari sah. Suatu ibadat disebut batal apabila tidak lengkap syarat dan rukunnya seperti yang telah ditetapkan oleh syariat. Sebaliknya ia disebut sah apabila diperbuat dengan segala rukun dan syaratnya serta tidak ter­jadi sesuatu yang membatalkannya. Suatu perbuatan yang batal tidak memadai da­lam menunaikan suatu kewajiban. Kewa­jiban itu harus diulangi sampai ia sah. Wu-du yang sah bisa dan memadai untuk diba­wa menunaikan salat. Sedangkan wudu yang tidak sah yaitu batal tidak dianggap ada, oleh sebab itu ia tidak memadai un­tuk menunaikan salat. Dalam bidang mua­malah jual bell yang sah adalah menjadi sebab bagi perpindahan milik dari si pen­jual kepada si pembeli. Sedangkan jual be­li yang batal tidak menjadi sebab bagi per­pindahan milik, sebab jual beli yang tidak sah itu dianggap tidak ada sama sekali.

Dalam bidang ibadat, para ulama sepa­kat bahwa hukumnya ada dua saja, yaitu ibadat yang sah dan ibadat yang batal. Mereka berbeda pendapat dalam bid ang muamalah seperti dalam peristiwa jual beli. Mayoritas ahli hukum Islam berpen­dapat, seperti halnya dalam bidang ibadat, dalam. bidang muamalah juga hanya dibagi dua, yaitu akad yang sah dan akad batal. Batal mereka pahami sama dengan istilah fasid. Kedua istilah tersebut menunjukkan suatu akad yang tidak lengkap syarat dan rukunnya. Oleh sebab itu ia dianggap tidak ada. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, jual beli dapat dibagi kepada tiga tingkatan, yaitu jual beli yang sahih, jual beli fasid dan jual beli batal. Mereka mem­bedakan antara jual beli fasid dengan jual beli batal. Jual bell batal ialah apabila ku­rang rukunnya, atau salah satu rukunnya tidak mencukupi kriteria yang diakui oleh syariat. Contohnya dalam masalah jual beli salah satu rukunnya ialah bahwa ben­da yang diperjual belikan itu adalah milik­nya sendiri. Apabila ada seseorang mem­perjual belikan hak milk orang lain, maka jual beli itu batal. Dalam masalah nikah yang’ menjadi salah satu rukunnya adalah bahwa perempuan yang akan dinikahi itu bukan istri dan seseorang atau tidak da­lam keadaan bersuami. Seseorang yang melakukan akad nikah atas seorang pe­rempuan yang sedang dalam keadaan ber­;uami, akad -nikahnya adalah batal. Akad nikah yang batal dianggap tidak ada. Oleh sebab itu tindakan seperti pergaulan suami istri yang dilakukan antara keduanya ada­lah sama dengan zina, dan anak yang di­hasilkan adalah anak tidak sah. Adapun suatu akad yang fasih ialah apabila kurang atau tidak diakui syariat Islam salah satu syarat yang menjadi pelengkap dan sesua­tu akad, sedangkan rukunnya lengkap dan sempurna seperti yang dikehendaki syari­at. Contohnya dalam masalah jual beli yang menjadi syarat pelengkap ialah di waktu akad kadar harganya harus secara pasti telah diketahui, agar tidak terjadi pertengkaran waktu pembayaran. Suatu akad yang tidak diketahui harganya secara pasti, adalah akad yang kurang syarat pe­lengkapnya. Akad yang kurang syarat pe­lengkapnya itu adalah akad yang fasid. Dalam hal ini akad dianggap ada, tetapi di­sebut akad yang kurang syarat pelengkap yang disebut akad fasid. Pada prinsipnya akad fasid perlu dinyatakan tidak jadi (fasakh), dan perlu diulang kembali, un­tuk menghindarkan pertengkaran pada waktu berikutnya. Akan tetapi jika telah sempat diterima benda yang diperjualbeli­kan itu oleh si pembeli dan digunakannya sehingga tidak ada kemungkinan lagi un­tuk mengembalikannya, maka benda itu dapat dinyatakan sebagai hak miliknya de­ngan syarat membayar harga menurut ni­lai umum benda tersebut.

Advertisement

Menurut pandangan mayoritas ulama, seperti dikemukakan di atas, tidak ada bedanya antara kurang rukun dan kurang syarat pelengkap. Keduanya menyebab­kan suatu akad tidak sah atau batal yang tidak memungkinkan untuk adanya per­pindahan

Perbedaan pendapat tersebut disebab­kan berlainan pandangan mereka tentang suatu larangan. Mayoritas ulama memaha­mi suatu larangan apabila dilakukan, hu­kumnya adalah tidak sah, yaitu batal, baik larangan itu disebabkan oleh kurangnya suatu rukun ataupun oleh kurangnya sua­tu syarat pelengkap. Dalam bidang mua­malah, suatu akad jual beli yang tidak lengkap syarat dan rukunnya adalah per­buatan yang tidak sesuai dengan tuntutan syariat. Suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat, adalah terlarang yang apa­bila dilakukan adalah tidak sah atau batal. Dalam hal tersebut, sama ada ketidak­lengkapan itu pada rukunnya, atau pada syarat pelengkap, karena masing-masing kekurangan itu menyebabkan tidak ter­penuhinya tuntutan syariat. Sedangkan kalangan ulama Hanafi memandang perlu­nya tingkatan hukum yang jelas yang dalam masalah jual beli harus sesuai ru­musan hukum itu dengan tingkat keku­rangan yang terjadi. Dalam hal ini masa­lah rukun adalah bersifat esensial dalam suatu akad perjualbelian, sedangkan se-lain rukun adalah bersifat pelengkap. Wajar apabila suatu akad yang kurang ru­kunnya itu dihukum batal, dan yang ku­rang syarat pelengkap dihukum fasad, sesuai dengan kedudukan dan kepentingan rukun dan syarat pelengkap itu sendiri.

Istilah batal oleh ulama fikih juga dipa­kai dalam hal suatu perbuatan seperti iba­dat yang dalam pelaksanaannya melanggar larang pantang yang telah dirinci oleh sya­riat. Salat dinyatakan batal hukumnya apabila melanggar beberapa ketentuan, seperti sengaja berkata-kata yang biasa di­hadapkan kepada manusia, seperti dikata­kan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah berkata kepada Mu`awiyah bin Hakam, bahwa sesungguhnya sembahyang itu tidak pantas disertai dengan perkataan manusia. Yang layak dalam salat ialah membaca tasbih, bertakbir dan membaca al-Quran. (H.R. Muslim).

Advertisement