Advertisement

Barbar, sebutan pada penduduk pribu­mi di Afrika Utara bagian barat. Mereka termasuk ras Kaukasus. Nama mereka se­cara tak menguntungkan telah diasosikan dengan kebengisan dan ketidakberadaban, sebagaimana tercermin pada pemakaian kata barbar baik dalam bahasa Arab mau pun bahasa Bahasa Eropa. Memang sejarah menunjukkan bahwa pada masa lampau orang-orang Barbar telah mampu menun­jukkan kehebatan kekuatan mereka untuk melabra.k bangsa-bangsa Latin mau pun Yunani. Pada zaman Islam pun orang­orang Barbar memainkan peranan penting baik dalam melawan mau pun, akhirnya, mendukung perluasan wilayah penguasa­penguasa muslim serta penyebaran Islam sendiri, khususnya di Afrika Utara dan Ba­rat serta Semenanjung Iberia.

Ekspedisi-ekspedisi yang dilancarkan penguasa-penguasa muslim di Afrika Utara meneapai wilayah orang-orang Barbar pa­da masa khalifah Usman (644-656/23­35 H). Memakai Mesir (Fustat dan Iskan­dariyah) sebagai pangkalan operasi ke ba­gian barat, gubernur yang berkuasa waktu itu mampu menundukkan Tripoli dan ka­wasan-kawasan sekitarnya. Kemudian ka­rena kekacauan politik di sekitar pembu­nuhan khalifah Usman, upaya penguasaan atas kawasan-kawasan Barbar terhenti un­tuk sementara, Munculnya dinasti Umay­yah yang dibidani Mu`awiyah menghidup­kan kembali ekspedisi-ekspedisi ke Afrika Utara. Kelihatannya pasukan-pasukan Umawi tidak mengalami banyak rintangan untuk menundukkan Afrika Utara hingga pada 670 (50 H) kota Qairawan pun di­bangun sebagai garnizun minter dan seka­ligus tempat berdiamnya pejabat Umawi (`amil), Namun pembangunan kota ini ju­ga menunjukkan secara implisit kesulitan pasukan Umawi untuk menerobos perla­wanan orang-orang Barbar di belahan ba­rat di bawah Maisarah atau pun Ukasyah. Yang menarik, dengan memanfaatkan per­tentangan internal di antara suku-suku Barbar yang nomad dan yang rnenetap, pasukan Umawi mampu mendapatkan du­kungan dari sebagian orang-orang Barbar. Sehingga akhirnya antara 700 (81 H) sam­pai dengan 708 (89 H) Aljazair dan Ma­rokko secara bertahap dikuasai oleh pa­sukan Umawi yang ditandai dengan ditun­juknya Musa bin Nusair sebagaijubernur Afrika Utara secara penuh (wall `alei yaitu tunduk secara langsung kepada khalifah di Damaskus dan tidak lagi ke­pada gubernur di Fustat.

Advertisement

Meskipun orang-orang Barbar, khusus­nya semenjak kekhalifahan al-Walid (705-715/86-96 H) ikut menikmati ha­sil-hasil ekspedisi ke luar Afrika Utara, mereka menolak perlakuan oleh orang­orang Umawi yang diskriminatif. Sebagai anggota-anggota tentara pendukung terha­dap pasukan Umawi (ahl asy-Sycim) orang­orang Barbar terjun ke berbagai medan pertempuran membela rezim Damaskus. Namun dominasi dan kesewenang-wenang­an orang-orang Umawi, yang umpamanya menganggap orang-orang Barbar sebagai “harta rampasan” (annahum fai’ al-musli­min), telah memberikan peluang bagi orang-orang Barbar untuk mendukung ka­um oposisi secara umum semacam Khawa­rij atau pun memberikan perlawanan yang bercorak lokal. Hal ini terbukti baik dari keberhasilan figur-figur lokal semacam Abdul Wahid dan az-Zunati mau pun to­koh-tokoh Khawarij seperti at-Tujaibi, al­Muradi, dan al-Hadrami untuk memimpin orang-orang Barbar melawan penguasa Umawi di Afrika Utara.

Berdirinya khalifah Abbasiyah membe­rikan corak baru bagi Afrika Utara. De­ngan berdirinya berbagai dinasti lokal di Afrika Utara, seperti Idris, Aglab dan Rus­tam peranan orang-orang Barbar semakin menonjol sebagai pendukung utama dinas­ti tersebut. Peranan yang demikian juga terlihat sewaktu Bani Fatimah melancar­kan revolusi dan berhasil menguasai Tuni­sia dengan Mandiyah sebagai ibukotanya pada 909 (296 H). Namun sampai perio­de tersebut tak seorang Barbar pun mam­pu membangun sebuah entitas politik yang otonom apalagi sebuah dinasti. Ha­nyalah dengan munculnya kaum Murabi­tin pada 1062 (454 H) dan Muwahhidin pada 1147 (542 H) secara jelas orang­orang Barbar memimpin gerakan dan pe­merintahan mereka sendiri.

Dalam periode modern, meskipun ber­bagai budaya luar terus mernpengaruhi orang-orang Barbar, sebagai kelompok bu­daya mereka tetap bertahan. Penerimaan mereka atas Islam ternyata telah memu­dahkan berbaumya kaum pendatang yang seagama, khususnya orang-orang Arab, de­ngan mereka. Ini terlihat secara jelas dari pemakaian Bahasa Arab atau paling tidak dialek campuran Arab Barbar sebagai ba­hasa komunikasi bagi kebanyakan penghu­ni Afrika Utara termasuk Aljazair dan Ma­rokko. Di samping itu upaya penguasa ko­lonial di awal abad ke-20 untuk memisah­kan orang-orang Barbar dari orang-orang Arab lewat pemisahan referensi hukum adat, yaitu antara ahl as-siba` dan ahl al­makhzan, mengalami kegagalan total. Ba­gaimanapun hal ini tidak berarti bahwa bahasa, adat dan identitas Barbar telah lenyap; Barbar tetap survive hingga kini sebagai bangsa dan bahkan menciptakan budaya baru, kombinasi dan antaraksi Barbar Arab ini berbagai kawasan Afrika Utara.

Advertisement