Advertisement

Barah adalah penerimaan dan pengakuan terhadap keabsahan kepemimpinan seseorang. Walaupun istilah ini telah dikenal sebelum masa Islam di antara suku-su­ku Arab, pe.makaiannya sebagai istilah po­litik yang mapan berkaitan erat dengan perkembangan kekhalifahan. Pada masa Nabi istilah itu digunakan sebagai janji ke­setiaan kepada Nabi Muhammad, sebagai­mana terlihat dari Beat aPAqabah oleh orang-orang Madinah menjelang Hijrah dan Bai`at ar-Ridwan oleh para pengikut Nabi menjelang Fath Mekah.

Corak-corak kepemimpinan dalam pe­riode awal Islam telah memberikan bebe­rape ilustrasi terhadap konsep barah. Ter­pilihnya Abu Bakar sebagai khalifah ber­sumber dari barah yang diberikan secara terbatas oleh tokoh-tokoh sahabat seperti Umar dan Abu Ubaidah. Ternyata inisiatif tokoh-tokoh ini diikuti oleh kaum mush.- min dengan memberikan barah umum bagi Abu Bakar sehingga kepemimpinan­nya didukung secara luas. Sewaktu Umar ditunjuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah, Umar pun memenangkan sema­cam barah umum yang diterima sebelum­nya oleh Abu Bakar. Di samping itu me­mang tokoh-tokoh sahabat mendukung • keputusan Abu Bakar tersebut. Juga, ini­siatif Umar menjelang wafatnya menunjuk sebuah panitia guna memilih penggantinya (ahl asy-syiiriz) telah menghasilkan ter­pilihnya Usman sebagai khalifah. Hasil pilihan panitia ini kemudian dikukuhkan dengan barah umum. Namun terbunuh­nya Usman pada 656 (35 H) memberikan corak baru kepada wajah bai’ah seperti terlihat dari penolakan sementara pemuka sahabat mengakui kekhalifahan. Ali, ken­. datipun All memenangkan barah dari mayoritas penghuni ‘Madinah. Perpecahan dan pertikaian politik di masa All juga me­nimbulkan dampak baru terhadap konsep kepemimpinan umat, terutama sewaktu Mu`awiyah berhasil memproklamirkan di­rinya sebagai khalifah di Siria. Meskipun pengakuan ini terlaksana setelah Ali me­ninggal, tetapi perlawanannya yang akhir­nya menghasilkan barah umum bagi diri­nya telah menambah dimensi baru ter­hadap legitimasi kepemimpinan umat. Namun dominasi Bani Umayyah atas ke­khalifahan telah mengakibatkan kurang berartinya bai`ah bagi legitimasi kepemim­ pinan mereka. Hanya pada waktu timbul­nya dinasti-dinasti besar seperti Abbasiyah dan Fatimiyah persoalan legitimasi kepe­mimpinan lewat barah menjadi penting kembali bagi validitas dan keberlangsung­an tuntutan mereka.

Advertisement

Dari pengalaman masa awal Islam yang dianggap sebagai peradigma permasalahan, para penulis muslim mengembangkan teo­ri-teori legitimasi kekuasaan berdasarkan barah. Kekuasaan, karenanya, bisa, dan memang pernah, diperoleh lewat pemilih­an, penunjukan, wasiat atau kekuatan sen­jata yang dikukuhkan dengan barah, apa­kah secara khusus oleh kelompok tertentu (ahl al-hall wa al-aqd) ataupun secara umum oleh umat. Namun perebutan ke­kuasaan yang mewarnai masa akhir Bani Abbas dan masa-masa sesudahnya telah meredusir fungsi barah menjadi semacam “stempel karet” yang lebih bercorak me­nerima kenyataan daripada memberikan legitimasi kepemimpinan. Salah satu hal yang perlu dicatat bahwa konsep baVah pada prinsipnya sangat identik dengan “kontrak politik” yang kemudian dikem­bangkan oleh pemikir-pemikir modern se­perti Jean J. Rousseau dan Montesquieu.

Advertisement