Advertisement

Baitullah artinya Rumah Allah, yaitu Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail atas perin­tah dari Allah. Disebut Baitullah (Rumah Allah), bukan berarti bahwa Allah bertem­pat tinggal di dalamnya, tetapi dibangun khusus untuk tempat menyembah Allah. Allah sendiri menyebut Ka’bah itu Baiti (Rumah-Ku), seperti dijelaskan di dalam al-Quran (lihat surat . al-Baqarah: 125). Disebut Ka’bah, karena bangunannya ber­bentuk kubus. Dalam bahasa Arab suatu bangunan berbentuk kubus disebut Ka’-bah.

Sebagaimana bangunan biasa Ka’bah te­lah beberapa kali mengalami kerusakan dan perbaikan. Bahkan di masa Nabi Ibra­him masih hidup ia pernah rusak, dan per­baikannya dilakukan oleh Bani Amalikah dan Bani Jurhum.

Advertisement

Sampai dengan masa Qusay bin Kilab, kakek Nabi Muhammad yang kelima, Ka’-bah belum lagi pakai atap dan sekeliling­nya merupakan tanah lapang. lepas tanpa dinding, yang selain untuk tempat tawaf, ia digunakan sebagai tempat bersantai di waktu pagi dah petang oleh masyarakat sekitarnya. Qusay bin Kilab yang menjadi kepala pemerintahan kota Mekah waktu itu berjasa dalam usahanya memberi atap Ka’bah walau hanya dengan kayu, dan membatasi tanah lapang lepas di keliling Ka’bah itu yang kemudian setelah datang Islam disebut Mesjid alHaram (lihat al­Mesjid alHaram).

Pada tahun gajah (571), tahun kelahir­an Nabi Muhammad datanglah Raja Najasi bernama Abrahah dan Habsyah, bersama bala tentaranya dan sejumlah gajah, senga­ja untuk menghancurkan Ka’bah, namun merekalah yang hancur dengan izin Allah What Ababa).

Kemudian empat tahun sebelum Mu­hammad diangkat menjadi Rasulullah, terjadilah banjir besar di kota Mekah, yang mengakibatkan kerusakan pada din­ding-dinding Ka’bah dan beberapa bagian dan Hajar Aswad. Setelah selesai diper­baiki, terjadilah pertengkaran antara kabi­lah-kabilah Arab Mekah tentang siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad ke­temp atnya semula. Peranan Muhammad sangat menentukan dalam menyelesaikan pertengkaran yang nyaris membawa per­tumpahan darah itu (lihat Hajar Aswad).

Pada masa khalifah Yazid bin Mu`awi­yah yang berpusat di Damaskus, is mengi­rim bala tentaranya untuk menundukkan Wali Kota Mekah, Abdullah bin Zubeir, yang tidak mau mengakui pemerintahan­nya. Dengan menggunakan senjata berat manjanik (semacam mortir sekarang) kota Mekah diserang, dan akibatnya Ka’bah mengalami rusak berat pada dindingnya. Mendengar khalifah Yazid bin Mu`awiyah wafat di Damaskus, bala tentaranya pun mundur dari Mekah. Abdullah bin Zubeir segera memperbaiki kerusakan-kerusakan Ka’bah itu dan baru dapat diselesaikan pada 62 H. Kemudian setelah Hajjaj bin Yusuf dapat menaklukkan Abdullah bin Zubeir (75 H) dan menguasai kota Mekah, Ka’bah dirombak dan dibangunnya kern­bali atas persetujuan khalifah Abdul Malik bin Marwan, dengan pertimbangan bahwa perbaikan dan bangunan yang dilakukan oleh Abdullah bin Zubeir sebelumnya ba­nyak tidak cocok lagi dengan aslinya.

Berikutnya pada masa Pemerintahan Turki Usmani, di masa Sultan Murad Khan (1039 H), sekali lagi terjadi banjir besar di Mekah yang mengakibatkan din­ding-dinding Ka’bah rusak dan banyak batu bangunannya yang runtuh. Maka oleh Amir Mekah Syarif Mas`ud bin Idris Ka’bah diperbaiki dan baru dapat disele­saikan pada masa Amir Syarif Abdullah bin Hasan bin Namir (1040 H).

Selanjutnya pada masa Kerajaan Arab Saudi, di waktu Pemerintah akan menga­dakan perluasan Mesjid al Haram, setelah diadakan penyelidikan atas bangunan Ka’-bah didapati beberapa keretakan pada din-ding dan atapnya, dan perbaikannya baru dapat diselesaikan pada 1377 H.

Ka’bah adalah kiblat kaum muslimin. Mereka menghadapkan muka kepadanya di waktu mengerjakan salat bukanlah ber­arti menyembahnya. Ia tidak lebih dari suatu bangunan yang terdiri dan batu­batu biasa. Ia mulia hanyalah karena di­muliakan Allah dan kaum muslimin meng­hadapkan muka kepadanya adalah karena perintah-Nya (lihat surat al-Baqarah: 144). Ka’bah hanyalah satu titik sebagai alat un­tuk menyatukan arah umat Islam dalam mengerjakan salat, dan sebagai lambang persatuan umat Islam.

Advertisement