Advertisement

Baitul Hikmah, sebuah lembaga ilmu pengetahuan yang menjadi populer semen­jak masa kekhalifahan al-Makmun bin Harun ar-Rasyid (813-833/198-218 H), khalifah Abbasi ketujuh. Nama baitul hik­mah sendiri berarti “rumah kebijaksanaan (baca: falsafat)”. Dengan dukungan penuh dari al-Makmun, lembaga ini menjadi turn­puan para cendekiawan dan filosof. Baitul Hikmah memang berfungsi multi, terma­suk temp at diskusi, perpustakaan dan pe­nerjemahan. Kecenderungan para khalifah Abbasi awal terhadap ilmu pengetahuan dan falsafat tak bisa dilepaskan dari ikatan mereka dengan orang-orang non Arab (maw ii) seperti keluarga Barmak dan Ba­ni al-Munajjim (keluarga Syakir).

Berdirinya Baitul Hikmah bukan terjadi secara tiba-tiba. Keterlibatan Bani Abbas dengan kegiatan ilmiah yang telah dimulai semenjak al-Mansur (w. 755/158 H) me­nopang timbulnya lembaga semacam Bai­tul Hikmah. Dalam menyiapkan pemba­ngunan kota Bagdad pada 765 (148 H) al-Mansur, umpamanya, menggunakan para ahli falak, khususnya ,keluarga Naubakhti guna menentukan lokasi, posisi dan struk­tur kota. Walaupun kecenderungan ter­hadap astronomi waktu itu belum bisa di­pastikan ilmiah murni, namun al-Mansur telah membuktikan kecintaan dan du­kungannya terhadap ilmu dan diundang­nya para ulama dan cendekiawan ke Bag­dad. Di samping itu al-Mansur telah me­mulai langkah penting dalam bidang ilmu pengetahuan sewaktu ia berhasil membina hubungan dengan Jundi Syapur, pusat ke­giatan ilmu dan falsafat di bawah orang­orang Nestoria, sewaktu ia menjadikan Jir­ jis bin Bukhtaisyu dokter pribadinya. Ke­beradaan Jirjis di Bagdad yang kemudian diikuti anak cucunya telah mendorong berdirinya sebuah “klinik” (bimaristan). Namun barulah pada masa Harun secara resmi bimaristan beserta fasilitas belajar ilmu kedokteran dan falsafat, khususnya Yunani, didirikan oleh khalifah (madrasah Bagdad). Dengan adanya wadah semacam ini yang tentu membutuhkan literatur, maka kegiatan penerjemahan buku-buku kedokteran dan falsafat ke dalam bahasa Arab menjadi semakin maju walau masih lebih bersifat usaha pribadi. Fasilitas yang diberikan khalifah kepada para dokter dan ilmuwan ini tidak lepas dari peranan ke­luarga Barmak dalam istana. Sebagai indi­vidu-individu yang mencintai ilmu penge­tahuan, falsafat dan politik, keluarga Bar­mak, khususnya Yahya berperan mendo­rong Harun dalam memajukan ilmu dan falsafat. Karenanya tak mengherankan jika Harun bersama istrinya Zubaidah yang filantropis kemudian juga memba­ngun perpustakaan guna menyimpan kar­ya para penerjemah dan juga naskah-nas­kah asli. Keberadaan perpustakaan ini cukup dihargai dan diperhatikan seperti terlihat dari penunjukan seorang terkenal Abu Sahl an-Naubakhti sebagai pembina­nya. Dengan fasilitas yang demikian, me­mang sewaktu al-Makmun bermaksud membangun Baitul-Hikmah ia tinggal me­majukan karya-karya pendulunya.

Advertisement

Baitul Hikmah merupakan lembaga for­mal yang mensponsori kegiatan ilmiah. Hubungan al-Makmun dengan emperor Bi­zantium, Leo Armenia, telah dimanfaat­kannya untuk mendatangkan teks-teks ilmu pengetahuan dan falsafat Yunani ke Bagdad. Tentunya kecenderungan al-Mak­mun terhadap hal tersebut tidak terjadi secara terpisah, kendatipun dikatakan bahwa al-Makmun secara mistis ketemu Aristoteles yang menganjurkannya memi­lih falsafat. Terlepas dari cerita khayal ter­sebut memang al-Makmun memenuhi nasi­hat cendekiawan-cendekiawan Jundi Sya­pur untuk mendatangkan naskah-naskah Yunani ke Bagdad. Ini terlihat sewaktu khalifah mengirimkan sejumlah cendekia­wan seperti al-Hajjaj bin Matar, Ibnu al-Bitriq, Sulma dan Yuhanna bin Musawaih ke Konstantinopel (bilad arRiim) guna mendapatkan naskah-naskah yang cocok untuk diteemahkan. Sekembali para utusan tersebut di Bagdad timbul kebu­tuhan untuk menampung naskah yang me­reka bawa dan juga naskah dan penerje­mahan yang ada sebelumnya. Guna men­dayagunakan fasilitas dan narasumber ma­ka Yuhanna bin Musawaih pun ditunjuk sebagai kepala Baitul Hikmah pada 830 (215 H). Karena pengalamannya yang luas selama menjadi pengelola birniirisan dan lembaga pendidikan di Jundi Syapur, Yu­hanna berhasil menjadikan Baitul Hikmah lembaga yang berfungsi multi. Meskipun Yuhanna dan sejumlah besar kelompok Jundi Syapur mempunyai latar belakang kedokteran, mereka, khususnya sewaktu di Baitul Hikmah, juga menerjemahkan kar­ya-karya umum termasuk litterae huma­niores. Memang figur semacam Ibnu al­Bitriq, sebagai seorang tokoh penting di Baitul Hikmah telah memperkenalkan dan menerjemahkan buku-buku Aristoteles dan Hypprocrates. Sebagai lembaga ilmiah yang didukung khalifah, kelihatannya Bai­tul Hikmah juga menjadi tempat ideal bagi para ilmuwan. Hal ini secara jelas terilus­trasikan umpamanya dari upaya seorang intelektual yang sedang menanjak, Hunain bin Ishaq, untuk memenangkan simpati Yuhanna mau pun khalifah dengan me­ngirimkan karya terjemahannya yang ber­judul .atau alJawdmi` dari Apho­rismnya Hyppocrates kepada kepala Baitul Hikmah. Di samping itu Hunain juga memanfaatkan jasa baik keluarga Syakir (Bani al-Munajjim) untuk dikenal­kan kepada khalifah bersama-sama tokoh terkenal Sabit bin Qurrah. Dengan ter­kumpulnya sarjana-sarjana kenamaan di Baitul Hikmah atas sponsor khalifah ter­ciptalah kerja sama dan usaha kolektif yang lebih teratur guna menerjemahkan, meneliti dan bereksperimen serta me­ngembangkan ilmu dan falsafat.

Sepeninggal al-Makmun pada 833 (218 H), Baitul Hikmah mengalami kemundur­an terutama akibat berpindahnya para pengganti al-Makmun ke Samarra. Namun anehnya sewaktu masa kekhalifahan al-Mutawakkil Baitul Hikmah kembali diper­hatikan secara khusus oleh khalifah de­ngan sumber dana yang besar termasuk tanah-tanah wakaf barn. Hunain sendiri yang seangkatan dengan al-Kindi menjadi saijana dan penulis yang produktif pada masa al-Mutawakkil (w. 861/247 H).

Advertisement