Advertisement

Babullah adalah gelar bagi Mirza Ali Muhammad asy-Syirazi, seorang tokoh Syi`ah yang mendirikan aliran Babi­yah yang terkcnal di kawasan negeri Persia dan sekitarnya. Di depan namanya diberi sebutan “sa`yid”, karena menurut peng­akuannya ia masih keturunan Ahlul Bait. Ia lahir di Syiraz, suatu negeri di kawasan Persia, sekitar 1819 (1235 H), atau ada yang mengatakan 1821 (lihatBahaiyah).

Muhsin Abdul Hamid, dalam karyanya Haqigat al-Beibiyyat wa al-Bahaiyyat, menjelaskan bahwa Mirza Ali Muhammad asy-Syirazi semenjak kecil sudah kehilang­an ayahnya, dan tanggung jawab pendi­dikannya dipikul salah seorang pamannya, sampai ia menginjak dewasa. Jenjang pen­didikannya tidak diceritakan ia hanya di­ketahui pernah berguru kepada salah se­orang ulama terkenal di kalangan Syi`ah, Sayyid Kazim ar-Risyti. Dialah yang ba­nyak mempengaruhinya ini dalam bidang tasawuf dan falsafat.

Advertisement

Dengan memanfaatkan doktrin Syi`ah tentang imam, bahwa Sayidina Ali dan imam-imam sesudahnya adalah pintu ger­bang pengetahuan esoteris (al-bdb), Sa­yid Mirza Ali Muhammad asy-Syirazi mem­proklamirkan dirinya sebagai pintu ger­bang yang harus dilalui seseorang yang ingin bertemu dengan Tuhannya, sebagai titik sentral (an-nutgat), sebagai sumber kebenaran dan ruh Allah, dan sebagai tan­da penampakan kekuasaan dan keagungan Allah di atas dunia. Kemudian dia mem­buat gelar baru untuk dirinya dengan Hadarat al-Ula” atau Bab AIM, yang di- siarkan para pengikutnya di Khurasan dan sekitarnya.

Babullah meninggal dunia pada Juli 1850, dieksekusi pemerintah Persia, ka­rena dituduh menyebarkan ajaran yang menyesatkan. Ajaran-ajarannya kemudian dikembangkan oleh salah seorang murid­nya, Bahaullah. Aliran ini kemudian ber­ganti nama menjadi aliran Bahaiyah, dihu­bungkan pada nama tokoh yang mengem­bangkannya.

Sebelum menutup mata, Babullah sem­pat mewariskan beberapa pokok pemikir­annya dalam buku al-Bayiin, yang meli­puti: konsep ketuhanan, penciptaan, baik buruk, nabi dan rasul, dan lain-lainnya.

Tuhan Pencipta, menurut Babullah, adalah Yang Satu (Mutawahhid) dalam arti tidak ada sekutu dalam kekuasaan­Nya. Penciptaan bukan bersumber dari pe­rintah dan kehendakNya, tetapi hanya da­lam rangka penampakan lahir (mazhar) zat Allah, karena kalau tidak mencipta Dia tidak diketahui hidup dan berpenga­ruh.

Dan apabila kiamat terjadi, semua makhluk akan kembali kepada Allah, fana dalam keesaan-Nya yang menjadi sumber semuanya, dan pada saat itu segala sesuatu tampak mempunyai sifat llahiah. Demi­kian, konsep ketuhanan Babullah yang mengambil bentuk wandatul wujud.

Dalam masalah penciptaan, Babullah berpendapat, bahwa Allah mempunyai tu­juh huruf suci, sebagaimana sifat ketuhan­anNya, yaitu Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Kehendak, Maha Pengaruh, Maha Agung dan Maha Pemberi Wahyu. Selain itu Allah mempunyai tujuh kekhususan lain yang tidak terhingga, akan tetapi tu­juh kekhususan itulah yang dijadikan sara­na untuk menciptakan segala yang ada ini.

Masalah baik dan buruk sebenarnya ha­nya sebagai konsekuensi dari faham wah­datul wujudnya. Buruk, bagi Babullah, adalah, konsekuensi dari proses penciptaan itu sendiri, yaitu sebagai kekur,angan yang mesti ada (darury) dan timbul akibat ter­pisahnya makhluk dengan sumber Ilahi dalam satu waktu. Keburukan atau keja­hatan itu bukan sesuatu yang benar-benar ada, bukan pula sebagai usaha atau prakar­sa manusia, bukan pula sebagai pertanda murka Tuhan yang ditimpakan pada ham­ba-Nya. Dikatakan selanjutnya, manusia tabiatnya adalah baik. Hal itu menunjuk­kan bahwa, manusia senantiasa cenderung berusaha berhubungan dengan pencipta­nya, sedangkan Allah senantiasa menjadi tujuan, agar semua bagian yang bersumber dari pada-Nya dapat berhimpun dengan­Nya. Dalam hal ini terlihat hubungan yang harmonis antara Allah dengan makhluk­Nya, dengan adanya wahyu dan kenabian.

Mengenai masalah kenabian, bagi Ba­bullah yang menganut faham wandatul wujud, bukan merupakan hal yang sulit digambarkan. Manusia dan semua yang ada ini pada hakikatnya hanya sebagai pe­nampakan lahir Allah saja. Dengan demi­kian maka nabi dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, adalah sebagai penampakan lahir bagi kesempurnaan Allah, yang senantiasa berhubungan de­ngan Allah yang menjadi sumbernya. Nabi itu sendiri sebagai ruh Ilahi yang ditiup­kan dan pada-Nya, dan dia lebih cepat kembali kepada-Nya ketimbang yang lain. Tidak ada perbedaan tingkat atau derajat bagi para nabi, semua sama. Mereka semua berasal dari sumber yang satu, untuk tu­juan dan maksud yang satu pula. Perbeda­an mereka hanya dalam tugas yang diem­bannya. Babullah juga berkeyakinan, bah­wa wahyu tidak pernah terputus sampai berakhirnya kehidupan manusia. Para nabi terdahulu telah datang membawa ajaran masing-masing, kemudian Isa datang sete­lah Musa dpngan ajaran baru, Muhammad di utus setelah Isa dengan ajaran baru, Ba­bullah datang menggantikan Muhammad dengan ajaran baru pula. Demikian sete­rusnya akan datang nabi-nabi baru dengan ajaran baru pula yang disesuaikan dengan masyarakat yang dihadapinya.

Advertisement