Advertisement

Azam berarti cita-cita atau ketetapan hati. Kata ini disebutkan dalam al-Quran sebanyak delapan kali dengan berbagai ar­ti. Ada yang berarti menetapkan (Muham­mad; 21), membulatkan tekad (Ali Imran: 159), menetapkan dalam hati (al-Baqarah: 227), janji (al-Baqarah: 235), yang patut diutamakan (Ali Imran: 186; as-Syura: 43), kemauan yang kuat (Taha: 1 15), clan teguh hati (al-Ahqaf: 35).

Dalam tasawuf, al-Gazali dalam Ihya `Uliim ad-Din merumuskp azam adalah ketetapan hati untuk melakukan suatu perbuatan, atau memutuskan niat untuk melakukan suatu perbuatan, atau ringkas­nya niat (cita-cita) untuk mengerjakan se­suatu. Konsekuensi dan azam ini, menu-rut al-Gazali, andaikan yang diniatkan adalah perbuatan baik, maka itu akan mendapat pahala karena azamnya, meski­pun perbuatan tersebut tidak jadi dilaku­kan. Dan kalau yang diniatkan adalah per­buatan buruk, kemudian tidak jadi dilaku­kan, hal itu akan mendapat pahala pula, karena meninggalkan perbuatan buruk adalah suatu kebaikan.

Advertisement

Dalam Ilmu Kalam, azam termasuk samemenuhi kebutuhan administrasi dan hubungan sosial secara umum. Sebaliknya penduduk Mesir yang tak mendapatkan kesempatan dan posisi di sektor militer dan politik mendapatkan kompensasi pa­da bidang keilmuan dan keagamaan. Dus, Azhar memainkan peranan penting bagi dinasti yang berkuasa dan penduduk pada umumnya dalam konteks masing-masing. Penundukan Mesir oleh Sultan Usmani pa­da 1517 talc banyak mempengaruhi sektor pendidikan, sebagaimana bisa dilihat dari keberlangsungan sifat Azhar yang terbuka bagi mobilitas sosial, satu hal penting yang sulit dijumpai dalam dunia pendidikan Us­mani baik di Istambul maupun Edirne.

Perubahan menyolok dialami Azhar da­lam periode modern. Kedatangan Napo­leon Bonaparte ke Mesir pada 1798 yang disusul dengan pengambil alihan kekuasa­an atas Mesir oleh Muhammad Ali pada 1805 memberikan pengaruh menyolok pa­da administrasi Azhar dan mengenalkap kembali cakrawala keilmuan yang agak terbuka. Kenyataan bdhwa para ulama di Mesir terpesona dengan superioritas misi Napoleon telah membuka mata beberapa ulama untuk meluaskan wawasan lembaga pendidikan mereka terutama Azhar. Juga, upaya “nasionalisasi” yang dilancarkan Muhammad Ali pada 1812 atas semua ta­nah pertanian menjadikan Azhar tergan­tung kepada penguasa dalam pembiayaan kegiatannya. Akibatnya upaya untuk mengintrodusir beberapa mata pelajaran semacam falsafat, ilmu falak dan musik pun terbengkelai. Jadi; pembaharuan yang diidamkan terpaksa mandek. Namun se­bab penting terhadap gagalnya pembaha­ruan kurikulum secara’tuntas, hingga abad ke-20, adalah oposisi dari para pemuka Azhar sendiri. Kelambanan Azhar menja­wab tuntutan kaum pembaharu dan pe­nguasa telah melahirkan lembaga-lembaga pendidikan negeri semacam Darul Ulum (1872) dan Sekolah Hakim (1908), serta kritik baik dari dalam mau pun luar Azhar. Atas usaha Muhammad Abdullah per­ubahan penting dalam adininistrasi Azhar tercapai dengan diciptakannya Majelis Administratif pada 1895 dan kemudian pada 1908 disusul dengan Majelis Tinggi yang bertanggung jawab atas pengelolaan budget dan kegiatan Azhar. Yang juga me­narik, revolusi 1952 (1372 H) akhirnya menghasilkan perubahan besar terhadap Azhar termasuk dibukanya beberapa fa­kultas barn seperti: kedokteran, teknik dan pertanian. Sebagai satu negara yang berpenduduk mayoritas muslim dan mengalami perubahan ke arah modernisasi relatif lebih awal, Mesir dengan Azharnya selalu menggoda inspirasi orang-orang Is­lam di lain bagian dunia. Dalam hal ini Az­har telah berjasa menyediakan fasilitas be­lajar secara gratis bagi beribu-ribu kaum muda muslim dari berbagai penjuru dunia. Tambahan lagi, para_ tenaga pengajar pun telah dikirimkan ke berbagai lembaga pen­dikan Islam di luar Mesir atas tanggungan Azhar sendiri. Dalam ulang tahunnya yang ke-1000 pada 1982, Azhar telah menun­jukkan kepada dunia atas kemampuannya dengan cara dan dinamikanya sendiri un­tuk menjawab tantangan dan menjaga kontinuitas.

Advertisement