Advertisement

Awam dan Khawas (al-Awcim wa al­Khawas) adalah dua kategori yang sering digunakan para ulama bagi manusia pada umumnya dan kaum muslimin pada khu­susnya. Awam berarti orang-orang keba­nyakan. Pengetahuan atau pemahaman akal mereka masih sederhana dan dangkal. Bila mereka itu penganut Islam, maka kualitas keimanan dan amal saleh mereka masih rendah. Mereka mengakui adanya Allah dan kerasulan Nabi Muhammad, ha­nya berdasarkan pembenaran atas peng­ajaran yang disampaikan para guru atau mubalig. Mereka melakukan amal saleh tanpa pemahaman yang mendalam dan kukuh. Bila mereka bertobat, maka itu masih dalam taraf tobat dan dosa besar, yang kadang-kadang masih mereka laku­kan. Keberagamaan mereka perlu terus menerus dibimbing dan dijaga oleh kaum Khawas.

Khawas berarti orang-orang pilihan. Pengetahuan dan pemahaman akal mereka terhadap sesuatu sudah mendalam. Bila mereka penganut Islam, maka itu berarti bahwa kualitas iman dan amal saleh mere­ka sudah tinggi. Mereka mengakui adanya Allah dan kerasulan Nabi Muhammad, tidak lagi karena membenarkan pengajar­an dari pihak pengajar, tapi karena telal membahas dalil-dalil akal, baik yang pro maupun kontra, tentang Allah dan Rasul­Nya tersebut. Mereka meyakini Allah dan Rasul-Nya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal yang sudah matang. Mereka laksanakan tugas-tugas agama ber­dasarkan pemahaman yang mendalam. Bila mereka bertobat, maka itu bukanlah dari dosa-dosa besar, tapi dari kekhilafan atau dosa kecil, yang masih mungkin tim­bul dari pribadi mereka.

Advertisement

Di samping itu juga terdapat istilah kha­wasul khawas (khawas al-khawas), yang berarti pilihan dari pilihan. Menurut kaum sufi, selain dari para nabi, hanya mereka yang memiliki hati yang suci (yakni de­ngan mata hati yang mampu menyaksikan rahasia Tuhan secara langsung, karena hi-jab yang menutup mata-batin sudah dapat dihilangkan melalui mujahadah) yang da­pat disebut dengan istilah terakhir ini. Me­reka itu tidak lain dari auliya Allah (para wali), dan minimal para arifin atau para suf. Keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak lagi berdasarkan dalil-da­lil pemikiran akal, tapi telah dikukuhkan dengan penyaksian mata hati tersebut. Ra­sa rida dan cinta mereka kepada Allah menjadi luarbiasa, demikian pula amal sa­leh mereka bagi sesama makhluk.

 

Advertisement