Advertisement

Aurat berasal dari kata Arab `awrat, seca­ra harfiah mempunyai banyak makna. Di antaranya ialah: terbuka, tidak tertutup, kemaluan, telanjang, aib, cela dan cacat. Kata aurat dan kata lain yang serumpun dengannya, pada umumnya mengandung konotasi tidak baik, kurang menyenang­kan bahkan memalukan atau mengecewa­kan.

Senada dengan beberapa pengertian harfiah yang dikemukakan di atas, aurat ialah “sesuatu yang oleh seseorang ditutu­pi atau ditutup-tutupi karena merasa malu atau rendah diri jika sesuatu itu kelihatan atau diketahui orang Namun demi­kian, dalam percakapan sehari-hari istilah aurat lebih banyak dipergunakan untuk anggota badan yang hams ditutup atau tidak boleh dibiarkan terbuka begitu saja apalagi dengan sengaja.

Advertisement

Anggota badan yang tidak boleh ter­buka tetapi hams ditutup itu dinamakan aurat, karena kalau dibiarkan terbuka akan membuat seseorang merasa malu dan tidak senang jika kelihatan orang lain. Atau disebut aurat, karena kalau dibuka akan mengundang nafsu birahi orang lain yang melihatnya sehingga is terangsang untuk melalcukan perbuatan seksual yang tidak terpuji bahkan tercela seperti zina dan lain-lain.

Menurut syariat Islam, menutup aurat hukumnya wajib bagi setiap orang muk­min baik laki-laki maupun perempuan, terutama yang telah dewasa, dan dilarang memperlihatkannya kepada orang lain de­ngan sengaja tanpa ada alasan yang dibe­narkan syariat. Kecuali itu, syariat Islam juga pada dasarnya memerintahkan kepa­da setiap mukmin (khususnya yang sudah memiliki nafsu birahi) untuk tidak me­lihat aurat orang lain terutama yang ber­lainan jenis (al-Quran, surat an-Nur ayat 30-31).

Adapun melihat aurat orang lain atau memperlihatkan aurat kepada orang lain yang dibenarkan syariat seperti sesama muhrim dan terutama suami atau istri, hu­kumnya boleh sebagai terdapat dalam ayat yang disebutkan di atas. Demikian pula orang muslim boleh melihat aurat orang lain atau memperlihatkan auratnya kepada orang lain (walau pun bukan muh­rim) jika ada alasan yang dibenarkan sya­riat seperti ketika berobat atau mengobati penyakit yang pengobatannya memerlu­kan melihat atau memperlihatkan aurat karena darurat.

Dalam pada itu para ahli hukum Islam berbeda pendapat dalam menentukan ba­tas-batas aurat itu sendiri, baik aurat laki­laki maupun aurat perempuan. Menurut kebanyakan ulama, batas aurat orang laki-laki ialah anggota-anggota tubuh yang ter­letak antara pusat dan lutut, terutama alat kelamin dan dubur di samping juga paha. Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, aurat orang lelaki hanyalah alat vital dan dubur, sedangkan paha tidak termasuk ke dalam kategori aurat yang wajib ditu­tup. Berbarengan dengan itu jumhar al-fu­qaha’ (kebanyakan ahli hukum Islam) ber­pendapat bahwa aurat laki-laki yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain ter­utama kepada kaum wanita, ialah anggota­anggota badan yang berkisar antara pusat dan lutut. Sementara sebagian kecil ulama yang pendapatnya dianggap lemah oleh kebanyakan ulama, menyatakan bahwa aurat lelaki di hadapan kaum wanita yang bukan muhrimnya, adalah seluruh anggota badannya.

Adapun aurat kaum wanita, menurut kebanyakan ulama ialah seluruh anggota tubuhnya selain muka dan kedua telapak tangan, kedua telapak kaki menurut sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah juga merupakan aurat. Di samping itu ada sebagian ulama, di antaranya Imam Ah­mad bin Hambal yang memandang seluruh anggota badan wanita (termasuk muka dan kedua telapak tangan) adalah aurat.

Dalam pada itu para ulama membeda­kan antara aurat kaum wanita di hadapan kaum pria dengan aurat kaum wanita di hadapan sesama wanita. Aurat wanita se­bagai tersebut di atas, sesuai dengan per­bedaan pendapat para ulama, tidak dibo­lehkan diperlihatkan kepada kaum lelaki selain suami dan muhrimnya atau orang lain yang oleh syariat dibolehkan melihat­nya. Adapun aurat wanita terhadap sesa­ma wanita, yang tidak boleh dilihat atau diperlihatkan ialah sama dengan aurat laki-laki yakni anggota-anggota tubuh yang berkisar antara pusat dan lutut.

Berbicara masalah aurat erat kaitannya dengan soal pakaian, karena aurat wajib ditutup dan alat penutupnya adalah pakai­an. Dengan demikian maka pakaian setiap mUslim adalah harus menutup batas-batas aurat seperti yang dikemukakan di atas. Namun karena para ulama berbeda penda­pat mengenai Batas-batas aurat itu sendiri terutama aurat bagi wanita, maka perbe­ daan pendapat pun muncul pula dalam masalah pakaian kaum wanita. Sebagian mengharuskan menutup seluruh anggota badan selain mata, sedangkan sebagian yang lain menambahkan selain muka, ke­dua telapak tangan dan kaki.

Dalam pada itu Forum Pengkajian Islam (FPI) IAIN Syarif Hidayatullah Ja­karta pada 24 Maret dan 28 April 1988 membahas soal aurat dan jilbab secara 11- miah dan mendasar, antara lain menyim­pulkan dan menetapkan bahwa pakaian wanita yang memperlihatkan leher ke atas (kepala), lengan (tangan) dan siku ke ujung jari dan kaki di bawah lutut, dipan­dang tidak bertentangan dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Advertisement