Advertisement

Asyura adalah hari kesepuluh Muharam bulan pertama Hijriah. Hari tersebut menjadi menonjol dalam kalender Islam bukan saja karena hubungannya dengan diundangkannya, untuk pertama kali, sebagai hari berpuasa dalam Islam tetapi juga dengan simbol keagamaan penting terutama bagi kelompok Syeah. Memang kematian Husein bin Ali yang tragis di ta-ngan penguasa Umayyah pada hari ter-sebut mempunyai makna penting dalam ekspresi dan pendalaman keagamaan Syi`a.h.

Puasa dalam bentuk yang sederhana te-lah dikenalkan Nabi pada masa awal hij-rahnya ke Madinah. Koinsidensi hari ber-puasa tersebut dengan kebiasaan orang Yahudi menjalani ibadat mereka pada hari yang sama mengudang para pengamat un-tuk menganggap terjadinya peniruan se-cara sengaja pada pihak Nabi. Alasannya, untuk menarik simpati kelompok Yahudi. Meskipun benar orang Yahudi telah men-jalankan puasa di hari Asyura sebelum Nabi, tak otomatis kebiasaan ini merupa-kan prerogatif tradisi Yudaisme. Bukan-kah akhirnya klaim Islam atas rujukan ke-pada warisan Ibrahim menunjuk kepada satunya sumber tradisi keagaam Semit? Apalagi akan menjadi jelas kalau hal ini dihubungkan dengan prinsip Islam yang menandaskan bahwa normativitas aturan ritus mesti bersumber pada “wahyu”. Di samping itu, Nabi bukan saja membatasi anjuran latihan fisik-spiritual lewat ber-puasa pada Asyura, melainkan tersebar pada hampir sepanjang tahun, seperti puasa sunah di bulan-bulan Syal’ban, Sya¬wal, Zulhijjah.dan seterusnya. Jadi, puasa pada hari kesepuluh bulan Muharam yang dianjurkan (baca: disunahkan) Nabi ha-nyalah satu mata rantai rentetan periba-datan puasa dalam Islam. Ia tak pernah di-gantikan atau pun menggantikan kewajib-an berpuasa pada bulan Ramadan.

Advertisement

Asyura mempunyai tempat tersendiri dalam tradisi dan doktriniSyi`ah. Pada hari itu pada 680 (61 H), Husein bin Ali mati terbunuh secara mengenaskan oleh pasu-kan Yazid, khalifah Umayyah kedua, di bawah komando Ubaidullah bin Ziyad. Walaupun kejadian tersebut mendapatkan simpati dari hampir seluruh umat, ia ber-kembang secara unik di kalangan Syiah. Kematian yang mengerikan itu menunjuk-kan jiwa pengorbanan yang tak ternilai. Akibatnya timbullah semacam rasa bersa-lah dan semangat penebusan yang menggelora di antara orang-orang Syi`ah demi menjunjung tinggi dan mengekspresikan kepatuhan kepada Imam Husein dan ke­luarga Nabi secara umum. Unjuk rasa ber­salah ini pertama kali dilancarkan para pengagum Ali dan keturunannya yang me­nyebut diri sebagai “orang-orang yang ber­tobat” (Tawwaban) di bawah Sulaiman bin Surad al-Khuzal pada 684 (65 H). Me­mang tak banyak yang bisa dikerjakan oleh kelompok aktivis yang tak lebih dari 4000 orang tersebut untuk memberikan perlawanan terhadap tentara Umayyah yang tangguh; namun spirit pengorbanan mereka telah memberikan inspirasi bare dan teguh dalam memperkuat ikatan se­mentara umat dengan keluarga Nabi, khu­susnya keturunan Ali. Semangat pengor­banan dan pembelaan terhadap keluarga Nabi torus dikobarkan kelompok yang kemudian dikenal sebagai Syi`ah di bawah pimpinan tokoh-tokoh seperti Mukhtar bin_ Abi Ubaid as-Saqafi, Zaid bin Ali Zainal Abidin, Abdullah bin Mu`awiyah dan lain-lain. Meskipun semangat ini meng­alami masa pasang surut dalam realitas se­jarah, tetapi ia selalu menyala di kalangan Syi`ah.

Semangat pengorbanan terhadap ke­luarga Nabi, khususnya Husein, tak terba­tas dalam ekspresi kekuatan dan perla­wanan bersenjata, ia juga tercermin dalam ritus keagamaan kaum Syi`ah yang men­capai puncaknya pada hari Asyura. Tak diketahui secara pasti kapan ritus Asyura dimulai; tetapi kemungkinan besar ung­kapan-ungkapan bela sungkawa dan pe­nyesalan atas kematian Husein dan pem­bacaannya secara terorganisir (marasi) telah beredar semenjak masa awal. Kemu­dian hal ini berkembang menjadi semacam adegan drama massal (teziyah) yang men­cerminkan seluruh episode kematian Hu­sein termasuk penyesalan dan sekaligus kesiapan berkorban. Pengadaan dan page­laran ritus ini menjadi semakin penting, terutama sewaktu kokohnya rezim politik yang nota bene adalah non Syi`ah, serta kegagalan-kegagalan perlawanan bersen­jata kelompok Syi`ah sendiri. Memang se-lama berkuasanya dinasti Buwaih yang ber­aliran Sycah atas Bagdad 945-1055 (334 —447 H), ritus-ritus Asyura menjadi lebih terbuka dan berkembang. Hingga abad ke­20 ini, ritus Asyura termasuk marasi, te­ziyah dan rauclah tetap populer dan diper­tahankan di kalangan Syi`ah Duabelas, meskipun penguasa politik, seperti dua Syah Iran almarhum, berusaha membatasi ekses dan penonjolan ritus Asyura yang emosional, serius dan potensial tersebut.

Advertisement