Advertisement

Ashabulkahfi berasal dari kata Arab ashab dan Ashab berarti para peng­huni, sedangkan al-kahf artinya gua. Jadi, secara singkat, ashabulkahfi berarti para penghuni gua. Al-Quran mempergunakan istilah ashabulkahfi sebagai julukan bagi kisah beberapa orang pemuda yang terti­dur di dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Menurut kisah itu ada seorang raja yang amat lalim dan membenci agama Nasrani. Ia memaksa rakyatnya supaya menyem­bah berhala. Karena kekejaman raja terse-but, banyak rakyatnya meninggalkan aga­ma Nasrani yang telah lama mereka anut, dan kemudian menyembah berhala sesuai dengan perintah raja.

Advertisement

Ada sekelompok pemuda yang tidak mau mengindahkan perintah rajanya itu, dan mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan yang mereka anut. Dengan sebunyi-sembunyi mereka tetap menyem­bah Tuhan dan secara diam-diam mereka tetap melakukan ibadat agama Nasrani yang dipeluknya. Namun kemudian pada akhirnya kegiatan ibadat mereka itu dike­tahui juga oleh sang raja, yang menyebab­kan mereka lebih ditekan untuk menyem­bah berhala bahkan diancam akan disiksa jika mereka tetap pada pendiriannya.

Demi keselamatan jiwa dan akidah yang mereka pertahankan, beberapa pemuda itu pun bersepakat untuk meninggalkan kampung halaman dan mengungsi ke se­buah tempat yang menurut perkiraan me­reka aman. Mereka menuju sebuah tempat yang letaknya tidak terlalu jauh dari tern-pat tinggal mereka semula. Di tempat baru itu, mereka menemukan sebuah gua yang cukup besar untuk tempat bersembunyi.

Setelah beberapa waktu lamanya mere­ka tinggal di dalam gua, mereka kehabisan bekal dan untuk mencari makanan serta minuman, salah seorang dari mereka pergi ke pasar untuk berbelanja. Ketika berbe­lanja itu ia mendengar berita tentang ke­sungguhan raja untuk terus-menerus me­ngej ar mereka.

Sepulang dari pasar, ia menceritakan berita tegang yang dia dengar kepada te­man-temannya.

Sebage manusia biasa, mereka tentu merasa khawatir dan takut kalau-kalau tempat persembunyiannya diketahui raja. Namun sebagai orang-orang yang beriman kuat, mereka tetap bertawakal kepada Tu­han seraya berdoa: “Ya Tuhan kami, beri­lah kami karunia (rahmat) dari sisi-Mu, dan. bukakanlah jalan yang benar bagi ka­mi.” (al-Quran surat al-Kahfi 10).

Berkat rahmat Allah, di saat-saat yang mendebarkan itu mereka terkantuk dan kemudian tertidur dengan amat tenang­nya.

Namun raja yang masih tetap mencari tempat persembunyian mereka, terus-me­nerus menekan keluarga setiap pemuda ashabulkahfi tersebut supaya menunjuk­kan tempat mereka bersembunyi. Tak ta­han atas tekanan dan ancaman raja, me­reka pun akhirnya menunjukkan tempat mereka melarikan dirt

Berdasarkan informasi yang diterima itu raja mengerahkan pasukannya dan akhirnya berhasil menemukan gua tempat persembunyian ashabulkahfi itu, tapi tak seorang prajurit pun yang berhasil masuk ke dalamnya. Dengan marah raja meme­rintahkan anak buahnya untuk menutup rapa.t pintu gua dengan keyakinan bahwa mereka pasti akan mati kehausan dan ke­laparan.

Namun bertahun-tahun setelah peristi­wa penutupan gua itu seorang penggemba­la kambing berusaha membongkar pintu gua dengan maksud menjadikan gua se­bagai kandang binatang gembalaannya.

Ketujuh pemuda ashabulkahfi, terba­ngun dari tidurnya dan sating bertanya be­rapa lama mereka tertidur. Ada yang me-rasa setengah atau satu hari, ada pula yang merasakan beberapa saat, namun tak se­orang pun di antara mereka yang merasa tidur berhari-hari apalagi bertahun-tahun.

Karelia merasa haus dan lapar salah se­orang dari mereka pergi lagi ke pasar. Di waktu berbelanja ia merasa heran karena telah banyak perubahan besar yang ia jumpai, sedang pedagang yang melayani­nya pun merasa bingung karena mata uang yang ia terima adalah mata uang yang su­dah tidak berlaku.

Al-Quran yang sebagian isinya mengan­dung berbagai kisah, mengabadikan kisah ashabulkahfi ini dan menjadikannya seba­gai surat ke-18 (al-Kahfi).

Advertisement