Advertisement

Asabiyah   artinya perasaan solidaritas karena pertalian darah, kebang­saan atau persatuan tanah air. Pada umum­nya, ulama-ulama Islam dari zaman klasik menentang dan anti terhadap paham ini karena adanya sabda Nabi: “Tidak ada asabiyah dalam Islam”. Perasaan ta ‘assub yang dilarang itu selalu diartikan “Kamu membela saudaramu, benar ataupun sa­lah”, sebagai peribahasa, right or wrong my country.

Politikus Islam termasyhur Ibnu Khal­dun (1332-1406/732-808 H) adalah satu-satunya pemimpin yang memperta­hankan asabiyah sebagai kekuatan negara, di samping agama. Larangan Nabi ialah asabiyah jahiliyah, yang sekarang dinama­kan chauvinis nationalisme, seperti halnya Nazi Jerman pada 1933-1945 yang ber­anggapan Deutschland uber Alles in der Welt (Jerman di atas segala-galanya da­lam dunia). Akan tetapi terhadap asabi­yah jinsiyah yang sekarang dinamakan nationalisme tidak ada larangan sama se­kali. Asabiyah Islamiyah, yaitu semangat nasional yang dijiwai oleh Islam tidaklah terlarang, tetapi disuruh. Berjuang dengan semangat patriotik, cinta bangsa dan ta­nah air adalah disuruh oleh Nabi.

Advertisement

Advertisement