Advertisement

A’raf, secara harfiah berarti tempat-tempat yang tinggi. Kata a`raf itu tercantum dua kali dalam al-Quran, yakni dalam surat yang ketujuh, dan sekaligus melekat menjadi nama surat tersebut (surat al­A`raf).

Ada perbedaan pemahaman tentang A`raf itu di kalangan ulama, dan untuk menjelaskan itu, ada baiknya diikuti le­bih dulu keterangan al-Quran 7:44-49, sebagai berikut:

Advertisement

“Golongan surga berseru kepada go­longan neraka: ‘Sesungguhnya kami de­ngan sebenarnya telah memperoleh apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada kami, maka apakah kamu telah memperoleh de­ngan sebenarnya apa yang telah dijanjikan Tuhanmu?’ Mereka (golongan neraka) menjawab: ‘Benar.’ Kemudian seorang pe­nyeru di antara kedua golongan itu meng­umumkan bahwa ‘Kutukan Allah ditimpa­kan kepada orang-orang yang lalim.’ (Yak­ni) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan mengingin­kan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka mengingkari adanya akhirat. Di antara keduanya (kedua golongan itu) ada hijab (tabir/dinding), dan di atas al-a`raf (tempat-tempat yang tinggi) berada orang­orang yang mengenal masing-masing (dari dua golongan itu) dengan tanda-tanda me­reka. Mereka (yang berada di AAa° me­nyeru golongan surga dengan mengucap­kan ‘Selamat atasmu’; mereka belum lagi memasukinya, kendati sangat ingin (me­masukinya). Dan bila pandangan mereka (yang berada di A`raf) beralih ke arah go­longan neraka, maka mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, janganlah Kau tempatkan kami bersama orang-orang yang lalim itu’. Dan orang-orang A`raf memanggil sejum­lah orang (dari golongan neraka), yang mereka kenal dengan tanda-tanda mereka, kemudian berkata: ‘Himpunan hartamu dan apa yang kamu sombongkan, tidaklah memberi manfaat kepadamu! Apakah me­reka itu (golongan surga) orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mere­ka tidak akan mendapat rahmat dari Allah? (Padahal Tuhan akan mempersilakan me­reka:) ‘Masuklah kamu ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran menimpamu dan kamu tak akan bersedih’.”

Satu pemahaman di kalangan ulama, menyatakan bahwa A`raf itu tidak lain da­ ri hijab, yang merupakan dinding-dinding tinggi yang menjadi pembatas antara sur­ga dan neraka, serta sekaligus menjadi pe­misah antara golongan surga dengan go­longan neraka. Orang-orang yang, berada di atas A`raf itu, menurut pemahaman ini, adalah orang-orang yang sedang menunggu putusan Tuhan; kendati ingin masuk sur­ga, tapi karena putusan belum ada, maka mereka belum bisa masuk. Sedangkan go­longan surga telah memasuki surga dan go­longan neraka telah pula memasuki nera­ka. Menurut sebagian ulama, orang-orang yang sedang menunggu putusan Tuhan itu, adalah mereka yang kebaikannya sa­ma beratnya dengan kejahatannya, se­dangkan menurut yang lain mereka adalah anak-anak kaum kafir, yang wafat sebe­lum balig.

Pemahaman lain di kalangan ulama, me­nyatakan bahwa A`raf itu derajat-derajat tertinggi. Orang-orang yang berada di atas A`raf, memiliki kesadaran yang tajam dan sempurna, sehingga mampu mengetahui, melalui tanda-tanda yang terdapat pada setiap manusia yang banyak itu, siapa yang menjadi golongan surga dan siapa pula yang menjadi golongan neraka. Mere­ka berada pada derajat-derajat tertinggi; mereka adalah para nabi atau rasul dan pa­ra pengikut mereka yang paling bertakwa. Merekalah yang mengucapkan selamat ke­pada golongan surga, yang sangat ingin memasuki surga, tapi belum datang saat­nya memasuki surga itu. Merekalah yang mengatakan kepada golongan neraka bah­wa “himpunan hartamu dan apa yang ka­mu sombongkan, tidaklah memberi man­faat kepadamu”, ketika golongan neraka itu belum memasuki neraka. Menurut pe­mahaman ini, lukisan al-Quran 7:44–49 itu adalah tentang tiga golongan manusia di hari akhirat, sebelum memasuki surga atau neraka. Ulama yang menganut pema­haman ini, berpendapat bahwa tiga golo­ngan (golongan A`raf, golongan surga, dan golongan neraka) dalam 7:44-49 itu ti­dak lain dari tiga golongan yang tercan­tum dalam .56:7-10, yakni golongan as­sabiqiin as-siibiqiin (yang paling terkemu­ka), askib al-maymanat (golongan kanan), dan ashab al-masy’amat (golongan kiri). Golongan kiri adalah golongan neraka, yang akan menjadi penghuni neraka; go­longan kanan adalah golongan surga, yang akan menjadi penghuni surga; dan golong­an yang paling terkemuka, yakni mereka yang Ming dekat dengan Allah (al-mwar­rablin), adalah golongan A`af, yang tentu akan memasuki surga dengan kualitas ke­las satu (paling utama) pula.

Advertisement