APA ITU ARTI AQIQAH

53 views

Aqiqah adalah menyembelih hewan pa­da had ketujuh dad kelahiran seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan. Hukumnya sunah atas orang yang me­nanggung biaya si anak, dua ekor kam­bing bagi seorang anak laki-laki dan se­ekor kambing bagi seorang anak perem­puan. Dalam sebuah hadis dijelaskan bah­wa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa di antara kamu yang ingin menyembelih he-wan untuk anaknya hendaklah disembe­lihnya dua ekor kambing yang sama umur-

nya untuk seorang anak laki-laki dan se­ekor kambing untuk seorang anak perem­puan.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud).

Akan tetapi jika disembelih seekor kambing saja untuk seorang anak Iaki-laki memadai juga, karena dalam hadis Burai­dah dijelaskan bahwa Rasulullah me­nyembelih hewan (aqiqah) untuk dua orang cucunya Hasan dan Husein, masing­masing seekor kambing kibasy (H.R. Abu Daud).

Selain kambing, lembu atau unta juga memadai untuk tujuh orang anak, baik mereka sernua seibu sebapak, maupun ber­sama anak-anak orang lain.

Binatang yang’ akan dijadikan aqiqah itu sama persyaratannya dengan binatang yang akan dijadikan korban. Oleh sebab itu tidak memadai binatang yang berca­cad, seperti pincang, sangat kurus, pon­tong telinga atau ekornya, di samping te­lah cukup umur dengan ketentuan untuk masing-masing binatang sebagai berikut: Kambing domba (den) hendaklah yang telah berumur satu tahun lebih atau sudah berganti giginya. Kambing biasa hendak­lah yang telah berumur dua tahun lebih. Unta hendaklah yang telah berumur lima tahun atau lebih, dan lembu hendaklah yang telah berumur sekurangnya dua ta­hun.

Daging aqiqah — kecuali sebagian kecil yang boleh dimakan oleh si pelaksana­nya — adalah hak fakir miskin. Dan yang lebih utama daging itu dimasak lebih da­hulu, kernudian dibagikan atau dihidang­kan kepada mereka, sehingga mereka ti­dak lagi perlu mengeluarkan ongkos untuk menikm atiny a.

Waktu pelaksanaannya disunahkan pa­da had ketujuh dari kelahiran seorang anak, seperti dianjurkan Rasulullah dalam sebuah hadis riwayat Ahmad dan Tirmizi. Jikalau seseorang tidak melaksanakannya pada hari tersebut, boleh dilaksanakan se­sudahnya, tetapi, seperti ditulis Imam Na­wawi dalam kitab a/-MajmtV, dianjurkan pada masa sebelum balig.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *