Advertisement

Ansar adalah nama yang diberikan ke­pada kelompok Madinah yang menyedia­kan fasilitas bagi hijrah Nabi dan para pe­ngikutnya dari Mekah (muligfirrin). Ars& plural dari nayir berarti penolong. Memang kaum Ansar adalah orang-orang yang me­nolong saudara-saudara mereka yang mus­lim dari Mekah.

Hubungan Nabi dengan orang-orang Madinah terbina secara intensif dua tahun sebelum Hijrah. Kedatangan beberapa orang Madinah menemui Nabi pada 620 memberikan alternatif lokasi buat basis kegiatan Nabi. Setelah mendapatkan ke­pastian dari orang-orang Madinah tentang prospek dan posisinya di Madinah lewat pertemuan-pertemuan di Aqabah dekat Mekah, pada 622 Nabi pun menganjurkan para pengikutnya yang berkisar di antara 70 orang pindah ke Madinah. Akhirnya Nabi pun bersama dengan Abu Bakar menyusul mereka. Walaupun orang-orang Mekah (muhajirun) yang pindah ke Madi­nah tak dilarang membawa harta mereka, untuk menghindari kesulitan mereka da­tang hampir-hampir hanya dengan tangan kosong. Di sinilah peranan penting yang dimainkan kaum Ansar dalam penam­pungan para muhajirun dan penyiapan fa­silitas guna pembinaan umat.

Advertisement

Pertikaian intern yang panjang antara kelompok Aus dan Khazraj yang mendo­minasi Madinah menghendaki seorang pe­mimpin yang tegas dan tak memihak un­tuk menyatukan mereka. Karena sebelum hijrah Nabi telah mendapatkan jaminan dukungan buat kepemimpinannya dari dua faksi tersebut, di Madinah Nabi sece­patnya merumuskan struktur dan landas­an kerjasama di antara penghuni Madinah yang beragam dalam apa yang disebut se­bagai “Konstitusi Madinah”: Memang ma­yoritas penduduk Madinah menjadi Mus­lim dan menerima sepenuhnya kepemim­pinan Nabi, namun ada beberapa unsur termasuk orang-orang Yahudi dan golong­an munafik yang selalu memberikan gan­jalan terhadap Nabi. Karena kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan orang-orang Yahudi, Nabi akhirnya memutuskan un­tuk menolak keberadaan mereka sebagai kelompok di Madinah seperti kelompok Qainuqa, Nadir dan Quraizah. Sedang orang-orang munafik terutama pemimpin mereka Abdullah bin Ubay akhirnya harus mengakui kebesaran Nabi sebagai pemim­pin umat yang tunggal. Dengan keberhasil­an Nabi mempertahankan Madinah dari serangan Quraisy pada 627 (5 H) (Perang Galian), kepemimpinan Nabi jelas tak ter­lawan oleh siapa pun di Madinah.

Dengan berangsurnya para anggota su­ku di luar Madinah menjadi muslim atau mengakui kepemimpinan Nabi, kaum An­sar bukan lagi golongan mayoritas dalam komposisi umat. Namun karena Madinah adalah pusat kegiatan umat, kaum Ansar tetap mempunyai peranan penting dalam misi Nabi; ini terlihat umpamanya sewak­tu Nabi meminta salah satu pemuka me­reka, Sed bin Mu’az, untuk menjatuhkan hukuman atas orang-orang Yahudi dari Quraizah. Namun dengan kedatangan to- koh-tokoh Quraisy yang baru menerima Islam, terutama setelah Penyerahan Me­kah, terlihat bahwa posisi-posisi penting di bawah Nabi berada di tangan Quraisy.

Keresahan kaum Ansar terhadap sema­kin dominannya pengaruh Quraisy mun­cul ke permukaan setelah Nabi wafat. Da-lam upaya mereka mengambil tampuk ke­pemimpinan, tokoh-tokoh Ansar berkum­pul untuk memilih seorang dari mereka sendiri sebagai pemimpin. Kelihatannya pertemuan mereka di balai Madinah (Sa­gifat Bani Siridah) tak mampu membuat keputusan tunggal, kendatipun Sed bin Ubadah muncul sebagai orang terkuat. Rupanya perpecalian panjang di antara ke­lompok Aus dan Khazraj masih menghan­tui mereka sebagai kelompok tunggal. Yang lebih penting, ternyata kaum Ansar kurang matang dalam persiapan dibanding Muhajirun. Memang sewaktu tiga serang­kai Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah mendatangi kaum Ansar di Saqifat Bani Seidah dan menyatakan Abu Bakar lah yang sesuai menjadi “pengganti Nabi”, kaum Ansar tak bisa berdalih kecuali

me­nerima. Namun mereka rupanya tetap menyimpan rasa ketidak puasan, dan ini terbukti dari dukungan mereka yang gigih terhadap pola kepemimpinan Ali yang ba­gaimanapun merupakan bandingan kenda­ti secara idealistik, terhadap kepemimpin­an tiga pendahulunya. Adalah wajar jika kaum Ansar merasa disisihkan dari tam­puk pimpinan terutama di masa Usman, ketika ia umpamanya menunjuk al-Haris bin al-Hakam sebagai penguasa pasar di Madinah. Ini jelas mendiskreditkan pemu­ka-pemuka Ansar sendiri. Karenanya bisa dipahami bila kebanyakan kaum Ansar aktif membantu kaum pemberontak dari Mesir dan Irak menyampaikan protes ke­pada khalifah. Setelah Ali naik tahta ka­um Ansar memberikan dukungan yang pe­nuh dan gigih walaupun ia akhirnya me­netap di Kufah.

Advertisement