Advertisement

Andalusia adalah sebuah nama yang dipakai oleh para sejarawan dan orang­orang Islam untuk mengidentifikasi enti­tas politik Islam di semenanjung Iberia (Spanyol) mulai dari masuknya Tariq bin Ziyad ke kawasan tersebut sampai dengan menyerahnya penguasa Granada yang muslim pada 1492 (898 H). (Pada zaman modern, Andalusia adalah sebutan bagi kawasan Spanyol bagian tenggara yang pernah menjadi kubu pertahanan terakhir penguasa-penguasa muslim di abad ke-13­15). Nama “al-Andalus” sendiri mungkin berasal dari “Vandal” sebuah nama suku yang menundukkan Eropa Barat di masa lalu. Penduduk Andalusia terdiri atas su­ku-suku Arab, Barbar, orang-orang pribu­mi (almusta`ribiin atau Mozarab) baik muslim atau bukan, budak belian dan ke­turunan orang-orang Islam secara umum (almuwalladan yang kemudian dikenal dengan Moriscos).

Selama hampir delapan abad entitas po­litik penguasa muslim di Andalusia meng­alami berbagai perubahan. Semenjak ber­hasilnya Tariq merebut semenanjung Ibe­ria sampai dengan jatuhnya khilafah Umayyah yang berpusat di Damaskus pa­da 749 (132 H). Andalusia adalah merupa­kan satu propinsi kekhalifahan yang dike­palai seorang gubernur (wali) yang pada prinsipnya ditunjuk oleh khalifah di Da­maskus. Dengan berkuasanya Bani Abbas di satu pihak dan berhasilnya Abdur Rah-man I pada 755 (138 H) menguasai Anda­lusia di pihak lain, maka jadilah Andalusia satu entitas politik Islam yang tak terikat secara formal dengan khilafah yang ada, kendatipun khutbah Jumat di Andalusia tetap mempertahankan sebutan khalifah Abbasi. Memang resminya baru pada 929 (317 H) penguasa Umayyah di Andalusia yang terbesar dan terkuat Abdur Rahman III menyatakan dirinya sebagai khalifah (amirul-mukminin). Status quo kekhali­fahan ini yang secara umum menunjukkan entitas politik Andalusia yang tunggal mampu bertahan hingga 1031 (422 H) meskipun mulai 1009 (400 H) beberapa di­nasti kecil (mu/u14 attawa ‘if) seperti Ham­mudiyah, Abbadiyah dan Ziriyah bermun­culan. Terpecah belahnya entitas politik orang-orang Islam di Andalusia dengan sendirinya membuka kesempatan buat pe­nguasa-penguasa non muslim di belahan utara untuk memanfaatkan situasi. Ini ter­bukti umpamanya dengan direbutnya To­ledo pada 1085 (478 H) untuk seterusnya dari tangan penguasa muslim dan juga tun­duknya beberapa penguasa muslim setem­pat, kepada raja-raja non muslim. Hal yang tak menguntungkan ini menimbulkan keprihatinan di antara orang-orang Is­lam sehingga tak mengherankan bila se­orang•penguasa di Seville mengundang pe­mimpin Murabitin, Yusuf bin Tasyfin, da­ri Afrika Utara untuk menyelamatkan si­tuasi di Andalusia. Kegemilangan Ibnu Ta­syfin pada 1086 (479 H) mengalahkan ke­kuatan Kristen yang sedang menanjak, membuatnya kembali lagi ke Andalusia dengan merebut Seville dan Kordova pada 1091 (484 H) sebagai basis perluasan ke­kuasan Murabitin di Andalusia yang berta­han hingga 1145 (539 H). Dengan ber­akhirnya kekuasaan Murabitin, untuk ma­sa. sekitar 25 tahun Andalusia kembali di­perintah oleh penguasa-penguasa kecil yang terpecah belah. Hal ini memudahkan dinasti Barbar yang sedang naik bintang­nya, Muwahhidin, di bawah khalifahnya yang kedua Abu Ya`qub Yusuf untuk me­nguasai Andalusia hampir secara penuh pada 1170 (566 H). Para khalifah Muwah­hidin yang tak tunduk kepada penguasa Bagdad mampu mempertahankan keutuh­an politik Andalusia sampai 1223 (620 H), sewaktu Ibnu Muhammad meninggal tan-pa seorang putra.

Advertisement

Kelemahan dan perpecahan di kalangan penguasa-penguasa tempatan serta ber­akhirnya kekuasaan pusat Muwahhidin melapangkan jalan bagi bangkitnya pe­nguasa Kristen (Reconquista), sehingga pusat-pusat pemerintahan Islam seperti Kordova dan Seville berhasil diambil alih masing-masing pada 1236 (633 H) dan 1248 (646 H). Sampai pertengahan kedua abad ke-13, tinggallah kesultanan Nasriyah di Granada mampu bertahan sebagai enti­tas politik Islam yang berdaulat di Anda­lusia. Memang kesultanan kecil ini mampu berkembang, menciptakan kemakmuran dan kemajuan bagi penduduknya seperti terlihat dari keindahan dan kemegahan is­tana al-Hamra (Alhambra), serta bertahan hingga 1492 (898 H), sewaktu penguasa kesultanan Nasriyah, Abu Abdillah, me­nyerah kepada pemuka Reconquista dan mengucapkan selamat tinggal kepada An­dalusia. Meskipun kekuatan formal Islam telah dihapuskan dari peta politik di seme­nanjung Iberia, orang-orang Islam (Moris­cos) tetap bertahan, khususnya di kota­ kota, serta membina solidaritas umat. Na­mun pemaksaan pindah agama dan akhir­nya pengusiran secara besar-besaran ke Af­rika Utara antara 1609 dan 1614 meng­akhiri keberadaan Islam secara terorgani­sir dan formal di semenanjung Iberia.

Keberadaan Islam yang cukup lama di Andalusia telah memberikan banyak kon­tribusi terhadap kemanusiaan dan ilmu pe­ngetahuan. Pemakaian bahasa Arab, urn­pamanya, sebagai bahasa literatur telah menyumbangkan karyafkaryal satra sema­cam al7qd alFaridnya Ibnu Abdi Rabbih (w. 940/329 H) dan penyair-penyair se­perti Ibnu Hani (w. 973/363 H). Hal ini pun memudahkan komunikasi ilmiah dan pertukaran pendapat sebagaimana terbuk­ti dengart munculnya pemikir-pemikir ka­liber dunia semacam Ibnu Hazm (w. 1064/ 456 H) Ibnu al-Arabi (w. 1240/638 H) dan Ibnu Rusyd (w. 1298/697 H). Juga, lembaga pendidikan di kota-kota Andalu­sia seperti Kordova, Seville dan Granada memberikan sumbangan yang penting bagi perkembangan ilmu di daratan Eropa. Yang tak kalah pentingnya, kebudayaan orang-orang Moriscos memberikan corak tersendiri kepada peradaban manusia da­lam arsitektur, kerajinan dan hubungan antar bangsa.

Advertisement