Advertisement

Amirul-Umara adalah jabatan ter­tinggi angkatan perang, atau Panglima Ter­tinggi Angkatan Bersenjata (Commander of the Commanders). Penulis-penulis Ba­rat menyebutnya Generalissimo. Dalam sejarah, pada mulanya jabatan ini wewe­nangnya terbatas pada bidang kemiliteran saja, akan tetapi kemudian kekuasaannya meluas, meliputi seluruh bidang kenegara­an, sama dengan kedudukan Kanselir da­lam pemerintahan Jerman pada waktu dan sesudah Perang Dunia I, bahkan sama de­ngan seorang diktator.

Jabatan ini .pertama kali diberikan ke­pada Panglima Muiz al-Muzaffar, Kepala Pengawal dari Khalifah al-Muqtadir 908­932 (295-320 H) atas jasanya dalam me­nyelamatkan negara dan khalifah yang lemah itu dari pembunuhan besar-besaran yang sudah diatur. Dia dianugerahi gelar tersebut untuk mengepalai seluruh Ang­katan Bersenjata. Akan tetapi, kemudian pada masa Khalifah ar-Radi (934-940 (322-329 H) jabataniamirulumara meli­puti jabatan Perdana Menteri, di samping sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Ber­senjata. Jabatan ini diberikan kepada Muhammad bin Raiq, di waktu posisi Khalifah ar-Radi sangat lemah menghada­pi perang saudara, yang butuh kepada seorang yang kuat. Waktu itu seluruh ke­kuasaan berada di tangannya, sehingga dia merupakan Sang Diktator, sedang Khali-fah hanya tinggal namanya saja. Dengan demikian timbullah zaman diktator dalam pemerintahan Islam, yang berjalan selama 10 tahun (934-945 (324-334 H). Dan di zaman itu pula timbul sistem kesultanan (ingat Bani Buyah) yang berjalan lebih dan satu abad famanya (945-1050).

Advertisement

Advertisement