Advertisement

Amirul-Mukminin Kata amir dalam kamus Arab secara umum dipakaikan pada keturunan bangsawan, meskipun ia tidak memegang sesuatu jabatan. Dan bisa juga berarti pemimpin suatu kaum atau koma-ndan sesuatu pasukan.

Nabi Muhammad biasa dijuluki orang Badui sebagai amir Hijaz atau amir Mekah. Demikian juga Sead bin Waqqas dan Ab­dullah bin Jahaz, masing-masing pernah digelari amirul-mukminin, ketika yang di­sebut pertama memimpin angkatan perang Islam ke Qadisiyah, dan ketika yang ke­dua pada Rajab 2H dikirim Rasulullah ke Mekah untuk mengintai gerak-gerik mu­suh, bersama dengan orang muhajirin.

Advertisement

Gelar amirulmukminin, di samping khalifah, pertama kali diberikan kepada Umar bin Khattab, khalifah kedua, ke­tika seorang kurir dari medan perang membawa berita kemenangan, lalu mena­nyakan: “Mana Amirul-mukminin (Umar bin Khattab)?” Sebutan itu lalu diikuti kaum muslimin. Atau ketika para sahabat merasa sukar menyebut gelar khalifatu khalifati Rasulillah, suatu gelar yang dise­nangi Umar bin Khattab untuk dirinya, maka sekelompok sahabat (Abdullah, Amar dan Mugirah) menyebutnya sebagai amirul-mukminin. Sebutan ini kemudian populer dan diikuti para sahabat lainnya.

Abu Bakar, khalifah pertama tidaklah disebut amirul-mukminin. Ia menamai dirinya Khalifatu Rasulillah dan keberatan disebut Khalifatullah.

Galar amirul-mukminin ini kemudian dipakai oleh khalifah-khalifah berikutnya (Bani Umayyah dan Bani Abbas), kecuali kalangan Syrah; mereka menggantinya de­ngan imam, suatu panggilan bagi All se­bagai seorang yang wajib diikuti, sama dengan mengikuti imam dalam salat.

Advertisement