Advertisement

Amil adalah orang yang bertugas me­ngumpulkan atau memungut zakat atau sedekah lainnya untuk kemudian dibagi­kan kepada yang berhak menerimanya atau diserahkan kepada Baitulmal. Apabi­la pekerjaan itu dilakukan suatu badan, maka tiap-tiap pekerja pada badan itu ter­golong amil yang termasuk salah satu pi­hak-pihak yang jumlahnya delapan seperti tersebut dalam surat at-Taubah ayat 60. Dengan demikian masing-masing mereka berhak mendapat bagian dari zakat yang dikumpulkan itu.

Pada waktu Rasulullah masih hidup, guna kelancaran pelaksanaan zakat, ia menunjuk atau mengangkat para amil untuk mengumpulkan zakat dan sedekah lainnya. Sistem ini kemudian diikuti pe­merintah khulafaurrasyidin bahkan di­kembangkan sehingga fungsi amil waktu itu merupakan suatu jabatan penting da­lam administrasi pemerintahan.

Advertisement

Pada masa khalifah Umar bin Khattab., setelah daerah pemerintahan dibagi da­lam tingkat-tingkat propinsi dan distrik, amil merupakan pejabat tinggi dalam ting­kat propinsi di samping gubernur dan ha­kim. Demi keberesan administrasi peme­rintahan, Umar bin Khattab memerintah­kan kepada setiap gubernur dan amil yang diangkat dalam jabatan tersebut, agar me­nyerahkan daftar harta kekayaannya ke­pada atasan yang berwenang pada permu­laan pengangkatannya.

Dalam masa pemerintahan Bani Umay­yah, pengangkatan para amil di propinsi­propinsi pada umumnya dilakukan oleh gubernur wilayahnya masing-masing. Pada waktu itu, dengan semakin luas dan pen­tingnya fungsi amil, maka di setiap kota penting diangkat amil yang dilengkapi de­ngan stafnya, yaitu semacam pejabat ting­gi dalam bidang perbendaharaan negara.

Pada masa pemerintahan Abbasiyah, para amil yang diangkat di setiap kota na kedekatannya dengan pemerintah Ing­gris, ia kerapkali dituduh sebagai penganut garis politik kolonial Inggris.

Berkaitan dengan ide-ide pembaharuan­nya, ia terkenal sebagai salah seorang to­koh yang berusaha menumbuhkan kesa­daran sejarah kejayaan masa lalu Islam. Pikiran-pikirannya, terutama, tertuangkan dalam karyanya yang cukup terkenal, The Spirit of Islam. Menurut Amir Ali, kejaya­an masa lalu Islam harus ditumbuhkan kembali. Karenanya, harus dipelajari se­cara historis latar belakang kejayaan ter­sebut. Baginya, di antara faktor yang paling fundamental yang melatarbelakangi kemajuan .dan kejayaan Islam masa lalu adalah sikap dan pandangan rasionalnya. Oleh karena itu, sikap dan pandangan rasional tersebut harus ditumbuhkan kern-ball di kalangan umat. Jika sikap dan cara pandang rasional tidak ditumbuhkan, bu­kan saja umat akan mengalami kemandek­an dalam kehidupan keagamaan dan kebu­dayaannya, melainkan juga akan sangat tergantung kepada nasib sikap pasrah. Ge­jala inilah di antaranya, yang menyebab­kan kemunduran dan kejumudan umat Islam.

Menurut Amir Ali, kemajuan umat Islam pada abad ke-9, misalnya, terutama •idukung oleh sistem teologi rasional, Mu`tazilah. Ketika itu, teologi Mu`tazilah dijadikan mazhab negara oleh khalifah al­Makmun. Namun, pada masa pemerintah­an al-Mutawakkil, teologi Mu`tazilah tidak lagi diberlakukan sebagai mazhab negara. Pada masa itu muncul sistem teologi tan­dingan, teologi tradisional, yang diprakar­sai oleh al-Asy`ari. Ciri utama teologi tra­disional adalah pandangannya yang lebih tergantung kepada nasib, sikap pasrah. Pandangan teologi seperti ini membawa pengaruh besar terhadap kemunduran umat Islam. Demikian pokok-pokok pikir­an Amir All yang wafat pada 1928, dalam usia tujuh puluh sembilan tahun.

Advertisement