Advertisement

Alim Ulama juga sering disebut dengan ulama, menurut hadis, adalah pewaris para nabi. Di dalam al-Quran sendiri kata ula­ma, disebut hanya dua kali. Pertama da­lam surat Fatir ayat 28: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba­hambaNya, hanyalah ulama.” Kedua da­lam surat asy-Syu’ara ayat 197: “Dan ti­dakkah cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahui­nya.”

Ayat 28 surat Fatir berbicara dalam kpnteks fenomena alam semesta dengan segala isinya, sedangkan ayat 197 surat asy-Syu’ara berbicara dalam konteks bah­wa kebenaran kandungan al-Quran telah diakui (diketahui) oleh ulama Bani Israil.

Advertisement

Berdasarkan dua ayat tersebut di atas dapatlah dikedepankan bahwa alim ulama atau ulama itu, sesuai dengan makna kata ulama itu sendiri yakni dari `alima (me­ngetahui), adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah maupun yang bersi­fat quraniyah. Ayat kauniyah seperti yang diisyaratkan oleh ayat 28 surat Fatir yang berbicara tentang hujan, tumbuh-tumbuh­an yang subur dengan hujan itu, gunung­gunung, kehidupan manusia, binatang yang bermacam-macam warnanya, adalah fenomena alam yang dewasa ini menjadi bahan selidik ilmu pengetahuan umum. Sedangkan ayat quraniyah, seperti yang disyaratkan oleh ayat 197 surat asy­Syu’ara yang berbicara tentang kebenaran kandungan al-Quran, adalah ajaran-ajaran agama yang dewasa ini menjadi bahan seli­dik ilmu pengetahuan agama.

Dari kedua ciri pengetahuan di atas, maka ulama di zaman klasik Islam adalah mereka yang menguasai ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama itu. Potret seperti itu terlihat lebih jelas pada masa pemerintahan Daulat Bani Abbas dan masa pemerintahan Bani Umayyah di Andalus. Ulama ketika itu, seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Farabi dan al-Gazali, di samping dapat menguasai apa yang di­kenal sekarang dengan ilmu agama, juga menguasai falsafat, matematika, bahkan musik.

Namun perkembangan ilmu dan tekno­logi telah mengantarkan beragamnya spe­sialisasi dalam bidang ilmu itu sendiri. Ini membuat timbulnya di Indonesia konsep terutama di masyarakat agama tentang sia­pa yang dikatakan ulama. Karena tidak mungkin lagi menguasai begitu banyak mu pengetahuan, baik itu ilmu umum ataupun ilmu agama, pada satu orang, ma­ka makna ulama menjadi menyempit. Apa­lagi bila hal itu dikaitkan dengan konsep ibadat yang juga turut menyempit, bahwa seseorang baru dikatakan beribadat kalau ia mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan. Akibatnya adalah tim­bulnya pergeseran makna, yang di masa klasik mereka yang menguasai ilmu umum dan ilmu agama, kepada makna mereka yang menguasai ilmu agama saja, bahkan lebih sempit lagi, ulama diartikan hanya mereka yang menguasai ilmu hukum fikih. Ini di Indonesia.

Adapun di dunia Arab Wim (Jamak: Wiamrt)mengandung arti sarjana bukan da­lam bidang agama saja tetapi juga sarjana dalam bidang sains. Ahli atom disebut alim az-zarrah, ahli matematika: alim ar­riddah, ahli ilmu pengetahuan alam:

at-tabrah dan sebagainya. Kalau di Indo­nesia istilah ulama dikhususkan kepada ahli agama, di dunia Arab istilah itu men­cakup ahli agama dan ahli sains.

 

Advertisement