Advertisement

Alam dalam pemahaman para ulama, mengacu kepada apa saja selain Allah, Ia mencakup alam syahc7dat (alam yang konkrit, yang dapat diamati oleh in­dera manusia) dan alamga7b (alam abstrak, yang tidak dapat diamati oleh indera), mencakup dunia dan akhirat, mencakup apa yang ada di bumi dan apa yang ada di langit, atau mencakup malaikat, roh, jin, setan, iblis, manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda mati, Alam memang memperlihatkan kemajemukan, dan mung­kin karena demikian, al-Quran tidak per­nah memakai bentuk tunggal `iflam, tapi bentuk jamak, Vlamin (yang berarti sege­nap alam). Allah berulangkali disebut se­bagai rabb (pengatur semesta alam).

Banyak ayat dalam al-Quran, yang memberikan informasi bahwa Tuhanlah yang mencipta dan mengatur bumi dan segenap langit, serta Dialah yang menjadi Pencipta segala sesuatu. Ini jelas berarti bahwa alam adalah ciptaan (makhluk) Allah, Juga diinformasikan oleh al-Quran bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan dengan kadar (ukuran atau potensi) ter­tentu; alam ini berjalan atau berkembang mengikuti takdir (ketentuan)-Nya, atau menurut sunah-Nya (hukum-hukum yang ditentukan Tuhan bagi alam).

Advertisement

Al-Quran, selain memberi informasi, ju­ga mendorong manusia agar menemui ke­benaran tersebut, melalui upaya memper­hatikan atau meneliti fenomena-fenomena alam. Dorongan itu antara lain sebagai berikut:

“Mengapa mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan; langit, ba­gaimana ia ditinggalkan; gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan; dan bumi, bagai­mana ia dihamparkan” (88: 17-20). “Dialah yang telah menciptakan tujuh la­ngit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat ketimpangan dalam ciptaan Tu­han Yang Maha Pengasih. Karena itu lihat­lah berulang-ulang! Adakah kamu lihat se­suatu yang tidak seimbang? (67:3)

Bila al-Quran menginformasikan bahwa segala sesuatu dalam alam ini mempunyai kadar, berkembang mengikuti takdir atau sunnah yang ditakdirkan Tuhan, maka du­nia penelitian terhadap fenomena alam menginformasikan bahwa memang alam, sejauh yang dapat diteliti, berjalan menu­rut.aturan atau hukum yang tertib dan te­tap; aturan atau hukum yang menguasai alam ini disebut dalam dunia ilmiah de­ngan hukum alam. Hukum alam ini dalam pandangan Islam tidak lain dari sunnatul­lah atau sunnah yang ditakdirkan Tuhan berlaku bagi keberadaan dan peredaran alam.

Ungkapan dalam dunia ilmiah bahwa ti­dak ada sesuatu dalam alam ini yang tidak tunduk kepada hukum alam, sama mak­sudnya dengan ungkapan yang biasa di­nyatakan oleh umat Islam bahwa tidak ada sesuatu dalam alam ini yang tidak ber­ada dalam takdir Tuhan. Hukum alam adalah takdir Tuhan atau hukum yang di­takdirkan-Nya bagi alam. Kendati tidak ada yang dapat menyimpang atau melang­gar hukum alam, atau tidak ada yang da­pat menolak’ takdir Tuhan, tidaklah itu berarti bahwa manusia berbuat tanpa ke­mauannya yang bebas. Manusia telah di­takdirkan Tuhan memiliki potensi untuk dapat memikirkan baik buruk atau benar salah, ditakdirkan-Nya memiliki kehen­dak, dan dapat melakukan perbuatan me­nuiut kehendaknya, dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh sunnatullah atau hukum alam. Ia ditakdirkan bisa memilih jalan hidup yang benar dan bila ia memilih jalan yang benar itu, berarti ia memilih takdir yang baik (yang menguntungkan bagi kebaikannya); ia ditakdirkan juga bisa memilih jalan hidup yang buruk, dan bila ia memilih jalan hidup yang buruk itu, berarti ia memilih takdir yang buruk (yang merugikan atau membuatnya men­derita).

Menarik juga bahwa kata Wam memi­liki akar yang sama dengan kata 1/m (pe­ngetahuan), (yang mengetahui), `altm (yang maha mengetahui), dan `aff­mat (tanda). Dari kenyataan itu pantaslah alam ini dipahami bukan saja sebagai se­bab bagi mengaktualnya pengetahuan da­lam kesadaran manusia, sehingga manusia menjadi `ii/im (orang yang berpengetahu­an), tapi juga sebagai tanda (ayat atau ala­mat) yang menunjukkan keberadaan Zat yang (Zat yang Maha Mengetahui), yang menjadi arsitek bagi keberadaan alam ini. Perintah atau dorongan al-Quran agar manusia memperhatikan atau meneli­ti fenomena alam, adalah dengan maksud ganda, yakni: agar manusia dapat menge­tahui tabiat, sifat, kecenderungan, atau hukum yang berlaku bagi alam, dan de­ngan pengetahuan itu dapat mengontrol atau memanfaatkan alam ini demi kebaik­an manusia dan lingkungannya; dan agar manusia terdorong untuk mengakui alam ini sebagai tanda bagi keberadaan Pencip­ta yang Maha Tahu, dan karena itu patut­lah ia bersyukur kepada-Nya.

Al-Quran, kendati berulangkali menya­takan bahwa apa saja dalam alam ini di­ciptakan dan ditata oleh Allah, Pengatur semesta alam, tidaklah berbicara tentang “sejak kapan” alam ini diciptakan-Nya. Dengan demikian pertanyaan sejak kapan alam diciptakan Tuhan dijawab sendiri oleh para pemikir muslim berdasarkan re­nungan atau kecenderungan yang mereka miliki. Sebagian merenung dan cenderung untuk berpendapat bahwa alam ini pernah tidak ada dan baru ada setelah Tuhan menciptakan-Nya. Karena itu alam bukan­lah kadim atau azali. Kecenderungan ini tidak dapat diterima oleh pihak lain, kare­na ini mengandung arti bahwa Tuhan pada mulanya belum mencipta, kemudian baru menciptakan alam. Pihak lain itu berpen­dapat bahwa Tuhan menciptakan alam “sejak Tuhan ada”, dan karena Tuhan itu kadim (tak bermula), maka alam yang di­ciptakan-Nya juga kadim.

 

Advertisement