Advertisement

al-Ikhwan al-Muslimun, adalah sebuah gerakan Islam yang aktif mempromosikan dan menerapkan ajaran agama berdasar­kan Quran dan Sunah secara ketat dalam kehidupan umat. Al-Ikhwan al-Muslimun (IM) yang berarti “Saudara-saudara Mus­lim” didirikan di kota Ismailiyah, Mesir pada 1928 dengan nama Jarn`iyat alIkh­wan alMuslimin. Pendirinya adalah Hasan al-Banna, yang kemudian menjadi figur kharismatik dan dikenal sebagai “Pembim­bing Agung” (alMursyid al‘,4m). Bermula dari sebuah kelompok keagamaan yang se­derhana al-Ikhwan al-Muslimun cepat ber­kembang, bahkan pernah merupakan ke­kuatan politik yang sangat berperan. Khu­susnya di Mesir. Namun setelah berhasil­nya kelompok militer di bawah Jamal Abdul Nasir mengambil alih kepemimpin­an di Mesir, al-Ikhwan al-Muslimun meng­alami berbagai penekanan dan pembatasan untuk melakukan aktivitas secara terbuka. Bagaimanapun ide-ide dan kepopuleran al-Ikhwan al-Muslimun tetap meluas bah­kan mampu menjalin kerjasama secara ti­dak resmi dengan berbagai badan dan ge­rakan Islam di luar Mesir.

Corak dan jenis aktivitas al-Ikhwan al­Muslimun dapat dibagi secara umum men­jadi tiga fase. Fase pertama (1928-1936) merupakan masa konsolidasi yang berco­rak keagamaan dan sosial. Sebagai seorang guru lulusan Perguruan Tinggi Darul Ulum (Kairo) al-Banna mempunyai bekal kuat untuk memperbaiki dan mempromosikan pendidikan agama. Di samping terus me­manfaatkan pendidikan formal al-Banna berusaha mendekati audience yang lebih luas, masyarakat, melalui berbagai saluran yang konvensional seperti mesjid, perte­muan-pertemuan rutin dan kekeluargaan serta yang terorganisasi, seperti acara-aca­ra yang berkaitan dengan penumbuhan al-Ikhwan al-Muslimun. Hal ini dilaksana­kan secara efektif terutama semasa al-Banna masih tinggal di Ismailiyah (1926­1933). Pada masa ini beberapa cabang al-Ikhwan al-Muslimun telah didirikan di kawasan-kawasan sepanjang terusan Suez. Pada 1933 al-Banna memindahkan pusat kegiatannya ke Kairo. Dan sinilah al-Ikh­wan al-Muslimun meluaskan sayap gerak­annya dengan menggunakan manpower dan struktur organisasi yang lebih canggih. Berbagai program termasuk . dakwah, pendidikan, koperasi, industri, dan perda­gangan telah dilancarkan dengan hasil yang cukup menggembirakan.

Advertisement

Fase kedua (1936-1952) merupakan puncak aktivitas al-Ikhwan al-Muslimun secara terbuka. Perjanjian yang ditanda­tangani antara Mesir dan Inggris pada 1936 telah mendorong al-Banna menyua­rakan dukungan penuhnya terhadap per­juangan penduduk Palestina. Keterbukaan dan keberanian al-Banna ini jelas sangat mempengaruhi jenis dan volume sambutan positif yang tumbuh di berbagai negara di Timur Tengah, terutama Siria. Di Mesir sendiri al-Banna telah .menjadi figur pen­ting dalam aksi melemparkan kritik terha­dap keberadaan Inggris. Hal ini bahkan te­lah merigakibatkan is ditahan pada 1941. Sebenarnya semasa Perang Dunia II, al­Ikhwan al-Muslimun telah menunjukkan kehandalannya bukan saja dalam kegiatan sosial dan organisasi keagamaan melainkan juga dalam mobilisasi massa. Bahkan ber­bagai barisan yang cukup terlatih, dan mungkin pasukan rahasia, telah dibina se­cara baik. Beberapa sadana memperkira­kan bahwa semenjak meletusnya Perang Dunia II telah terjalin kerjasama antara al-Ikhwan al-Muslimun dan kelompok ser­dadu yang kemudian mengadakan kudeta pada 1952.

Dalam kondisi yang sedemikian rupa tak mengherankan apabila al-Ikhwan al­Muslimun telah menjadi satu pressure group dalam kehidupan politik di Mesir pada masa itu. Memang al-Ikhwan al­Muslimun telah menjadi ujung tombak melawan kekuatan golongan kiri yang se­dang naik daun di bawah sayap Partai Wafort. Kontribusi dan pengalaman para sukarelawan al-Ikhwan al-Muslimun dalam perang 1948 melawan Israel telah membe­ rikan rangsangan bagi pimpinan al-Ikhwan al-Muslimun untuk mengambil sikap keras terhadap pemerintahan yang berkuasa di Kairo. Akibatnya al-Ikhwan al-Muslimun pun dilarang, segala kekayaan dan asset di­rampas, dan para pemimpin ditahan. Un­tuk tindakan keras ini, pemerintah hams menderita dengan terbunuhnya Perdana Menteri an-Nuqrasyi pada akhir 1948. Ku-rang dari dua bulan kemudian al-Banna pun dibunuh. Bagaimanapun al-Ikhwan al-Muslimun tetap bertahan, kendati sega­la aktivitasnya harus dijalankan secara bersama. Pada 1951 terbuka kesempatan bagi al-Ikhwan al-Muslimun untuk melan­jutkan kegiatan-kegiatan sosial-keagamaan secara resmi, tetapi tetap dilarang menga­dakan gerakan rahasia, dan agitasi politik, serta menyusun kekuatan militer. Di pi­hak lain perkembangan politik di Mesir saat itu tidak menutup bagi al-Ikhwan al­Muslimun untuk menghidupkan kegiatan lamanya yang agresif. Umpamanya, upaya al-Ikhwan al-Muslimun untuk menyerang pos-pos tentara Inggris di Terusan Suez adalah sangat efektif untuk memenangkan simpati umum dan sekaligus menyusun kekuatan.

Fase ketiga (semenjak kudeta 1952) merupakan masa pasang surut bagi al­Ikhwan al-Muslimun. Pada awal masa ke­kuasaan kelompok Nasir, al-Ikhwan al­Muslimun terlihat mendapatkan angin ba­ru untuk melanjutkan kegiatan berkat uluran tangan penguasa barn yang me­mang membutuhkan dukungan luas, ter­masuk al-Ikhwan al-Muslimun. Bahkan se­waktu kelompok Nasir membubarkan se-gala macam organisasi politik pada 1953, al-Ikhwan al-Muslimun dibiarkan hidup sebagai organisasi non-politik. Para pemim­pin al-Ikhwan al-Muslimun berusaha meya­kinkan penguasa barn untuk menjadikan program. al-Ikhwan al-Muslimun sebagai program nasional. Memang dalam berbagai kebijaksanaan sosial terlihat kelompok Nasir mengikuti garis besar ide al-Ikhwan al-Muslimun. Sebagai pihak independen apalagi berkuasa tak mengherankan kalau Kelompok Nasir menolak untuk tunduk kepada al-Ikhwan al-Muslimun. Akibatnya al-Ikhwan al-Muslimun pun melayangkan kritik pedas terhadap berbagai kebijaksa­naan Nasir. Protes dan krisis yang ditim­bulkan al-Ikhwan al-Muslimun mencapai puncaknya dengan usaha pembunuhan terhadap Presiden Nasir pada 1954 yang dilakukan oleh oknum al-Ikhwan al-Mus­limun. Pemerintah pun membalas dengan menghukum berat para pemimpin al­Ikhwan al-Muslimun. Dengan semakin kuatnya kekuasaan Nasir aktivitas al­Ikhwan al-Muslimun menjadi sangat terba­tas. Namun munculnya Anwar Sadat seba­gai pengganti Nasir, terutama pada dekade 1970an, telah membuka sejarah -baru bagi al-Ikhwan al-Muslimun. Kendati tetap ille­gal tetapi keberadaan al-Ikhwan al-Musli­mun cukup terbukti dengan kebebasan para bekas pemimpin dan wajah-wajah baru untuk menyuaralcan berbagai ide ori­ginal al-Ikhwan al-Muslimun. Cara-cara baru yang lebih lunak dan fleksibel, bagai­manapun, menimbulkan ketidakpuasan di kalangan sementara anggota; sehingga muncullah kelompok radikal yang cende­rung mdnggunakan pendekatan keras.

 

 

Advertisement