Advertisement

al-Hijaz, adalah sebuah kawasan Arabia bagian barat pantai timur Laut Merah. Di bagian utara dibatasi oleh Palestina, timur oleh Najd’, dan selatan oleh Yaman. Sebelum Islam, walaupun nama al-Hijaz sudah dikenal namun is tidak pernah tun­duk di bawah satu penguasa politik. Iden­tik dengan arti namanya (alhigg = peng­ikat di bagian tengah) is justru berperan semenjak dini sebagai mata rantai peng­hubung antara Laut Tengah dan Lautan Hindia. Namun kenyataannya al-Hijaz tak pernah mampu menarik perhatian kekuat­an-kekuatan besar di masa klasik balk Bizantium man pun Persia. Sebagai pusat kelahiran Islam dan lokasi bagi dua tern-pat suci Mekah dan Madinah (al-fiaramain), al-Hijaz memainkan peranan penting da­lam kehidupan umat Islam.

Ka’bah di Mekah .dan mesjid Nabawi di Madinah mempunyai tempat khusus bagi orang-orang Islam. Sebagai kiblat sembahyang dan sarana ibadat haji, Me­kah dan, sampai tingkatan tertentu, Madi­nah selalu menjadi tumpuan penguasa muslim untuk membuktikan komitmen mereka terhadap Islam dan juga meme­nangkan simpati umat. Memang sampai terbunuhnya Usman pada 656 (35 H), Ma­dinah tetap menjadi pusat pemerintahan. Karena potensi al-Hijaz yang terbatas, hampir dari segala segi, tak mengherankan jika semakin berkembangnya pemerintah­an dan wilayah politik penguasa-penguasa muslim kemudian telah mendorong ber­pindahnya pusat pemerintahan ke propin­si-propinsi yang lebih potensial. Namun hal ini tidak menghilangkan .sama sekali arti politik al-Hijaz seperti dapat dilihat dari pentingnya penyebutan nama pengua­sa muslim, khalifah atau sultan, balk da­lam khutbah yang dibacakan di Mekah dan Madinah mau pun dalam pencantum­an nama itu pada dinding Ka’bah. Pada abad ke-20 ini al-Hijaz kembali menjadi tumpuan perhatian umat Islam. Pertama, sewaktu kerajaan Usmani yang di antara­nya menguasai al-Hijaz dikalahkan pada Perang Dunia I oleh Inggris dan sekutu­sekutunya, umat Islam pun bangkit de­ngan segala cara untuk rnenyelamatkan temp at-tempat suci di al-Hijaz tersebut. Kemudian, sewaktu posisi khalifah di Is­tanbul akan dihapuskan, Syarif Husain berupaya atas dasar kedudukannya seba­gai penguasa al-Hijaz untuk mendapatkan dukungan bagi klaimnya atas kekhalifahan. Yang juga menarik, penguasa keraja­an Arab Saudi akhir-alchir ini memanfaat­kan kekuasaannya atas al-Hijaz guna me­wamai, dan secara implisit meligitimasi, pemerintahannya dengan simbol-simbol Islam. Hal ini terbukti dengan gelar yang disandangnya “Pengabdi Dua Kota Suci” (Khadim al-Haramain).

Advertisement

Advertisement