Advertisement

al-Hajar al-Aswad, (Batu Hitam) ter­letak di sebuah pojok luar Ka’bah kiblat umat Islam di Mekah. Batu ini berperan penting sebagai sarana dalam upacara ri­tual tawaf, baik secara terpisah mau pun berkenaan dengan umrah dan haji. Menge­nai asal-usul batu ini, sebagaimana diyakini umat Islam, adalah batu hasil pene­muan Nabi Ibrahim dalam rangka mem­bangun rumah ibadat. Bagaimana pun se­belum lahirnya Nabi Muhammad Ka’bah yang dilengkapi dengan Batu Hitam telah menjadi tempat suci penting yang pengua­saannya selalu menjadi arena perebutan antara keluarga-keluarga besar seperti Jur­hum, Khuza`ah dan Quraisy.

Tentunya penguasaan atas tempat suci tersebut, di samping memberikan gengsi dan otoritas kepada para penguasa di anta­ra suku-suku Arab, Ka’bah sendiri menda­tangkan keuntungan finansial secara lang­sung dari para peziarah dan secara tidak langsung lewat pekan-pekan musiman yang diorganisir di sekitarnya. Namun hal ini juga menuntut dari para penguasa Ka’- bah (baca Mekah) untuk menyediakan fasilitas “akomodasi dan konsumsi” (arri­fadah wa assitfayah). Walaupun Ka’bah dengan Batu Hitamnya merupakan sarana peribadatan agama monoteis yang dibawa Nabi Ibrahim, dalam periode-periode se­lanjutnya beraneka macam patung sema­cam Hubal juga dimasukkan ke Ka’bah. Juga di dalam Ka’bah disediakan tempat khusus untuk menampung sumbangan dan para penziarah. Sewaktu penguasaan atas Ka’bah jatuh ke tangan Abdul-Muta­lib, ia melengkapi tempat suci tersebut dengan sebuah sumur, Zamzam, yang di­percayai berasal dari mata air yang pernah dihidupkan Nabi Ismail. Sebelum diutus­nya Nabi Muhammad sebagai rasul, pada usia 35 ia telah berjasa besar dan memper­baiki bangunan Ka’bah. Ketika para tokoh Mekah berselisih menentukan siapa yang berhak menempatkan. kembali Batu Hitam pada tempat yang disediakan di Ka’bah, maka pilihan jatuh kepada Muhammad yang belum nabi kala itu. Pilihan atas Mu­hammad ini ternyata berhasil mengakhiri perselisihan yang timblul dalam penem­patan kembali Batu Mulia berkat kebijak­sanaannya.

Advertisement

Islam tidak mengubah posisi Batu Hi-tam di Ka’bah, meskipun hal-hal yang dianggap mengurangi dan bertentangan dengan doktrin keesaan Tuhan (tauhid) disingkirkan. Posisi penting Batu Hitam bagi kaum Muslimin dapat dilihat dalam ibadat tawaf. Selama mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dalam setiap tawaf yang dikerjakan, seorang muslim dianjur­kan memberi hormat kepada Batu Hitam baik melalui ucapan, isyarat, sentuhan, maupun ciuman. Ritual yang sedemikian syandu terhadap Batu Hitam bahkan per­nah membuat Umar penasaran sebagai­mana tergambar dalam ucapannya: “Se­andainya saya tidak pernah melihat Nabi menciummu (hai Batu Hitam) saya sendiri tidak akan pernah menciummu.” Karena sentralnya Batu Hitam dalam peribadatan Islam, khususnya bagi para pengunjung temp at suci Mekah, batu tersebut dilapisi dengan logam agar tidak aus habis akibat sentuhan dan ciuman para jemaah. Aneh­nya pada saat kaum Qaramitah yang mu­lai memberontak pada akhir abad ke-9 mengobrak-abrik Mekah, mereka mereng­gut Batu Hitam dan Ka’bah dan memin­dahkannya ke pangkalan mereka di belah­an timur Semenanjung Arabia kemudian ke Kufah selama periode 930-951 (317­339 H). Memang akhirnya kaum Qarami­tah di bawah Abu Ishaq al-Muzakki me­ngembalikan Batu Hitam ke tempat asal­nya pada Ka’bah. Mulai saat itu, kendati­pun beberapa perbaikan atas Ka’bah dilakukan Batu Hitam tidak pernah diusik apalagi dilarikan ke luar dari tempat suci Mekah.

Advertisement