Advertisement

al-Azhar, lembaga pendidikan bertaraf internasional yang berpusat di Kairo, Mesir. Sebagai lembaga yang berusia lebih se­puluh abad, universitas al-Azhar telah me­nunjukkan kemampuannya menghadapi perubahan dan menjawab tantangan. Azhar mula-mula didirikan sebagai mesjid oleh seorang panglima Fatimiyah, Jauhar as­Sidilli setelah Mesir pada 969 (354 H) se­cara penuh dikuasainya. Sebagai sebuah gerakan politik dan keagamaan, khalifah Fatimiyah menaruh perhatian khusus atas penyebaran doktrin-doktrin tertentu (dak­wah Fatimiyah) melalui para “kader” (dai). Untuk memenuhi kebutuhan terha­dap tenaga para dai inilah Azhar kemu­dian ditingkatkan peranannya bukan ha­nya sebagai mesjid melainkan juga sebagai lembaga pendidikan yang terorganisir di bawah pengawasan khalifah. Kendatipun

mesjid telah berfungsi multi sebelumnya, penataan Azhar sebagai lembaga pendidik­an resmi jelas merupakan satu inovasi.. De­ngan memberikan kepada pelajar Azhar fasilitas keuangan (minhah), akomodasi ‘(riw5q) dan keilmuan yang memadai, per­hatian gerakan Fatimiyah atas penyebaran dan penjelasan ajaran-ajarannya yang me­mang unik diharapkan terpenuhi. Memang upaya ini hanyalah merupakan satu kelan­jutan dan peningkatan terhadap keberha­silan mereka sebelumnya dalam mencipta­kan dai tangguh lewat usaha bawah tanah. Kelihatannya Azhar mengutamakan pen­didikan para dai elite yang dibutuhkan oleh khalifah. Ditopang fasilitas perpusta­kaan di Dar al-Hikmah, Azhar mampu menghasilkan bukan saja dai melainkan juga pemikir-pemikir Syi`ah Ismailiyah.

Advertisement

Perubahan orientasi Azhar terjadi me­nyusul ambruknya khalifah Fatimiyah di Kairo. Setelah hampir 200 tahun diguna­kan Bani Fatimiyah sebagai basis pendidik­an dan penyebaran doktrin-doktrin Syi`ah, Azhar diambil alih Salahuddin al-Ayyubi untuk dijadikan madrasah-mesjid yang berorientasi Sunni. Berlainan dengan Bani Fatimiyah yang menekankan pengajaran fi­losofis dan teologis, dinasti Ayyubi, seba­gaimana penguasa dan pemuka Sunni yang lain, lebih mementingkan pengajaran fikih dalam madrasah yang mereka kelola, ter­masuk Azhar. Pengambil alihan ini, sebe­narnya, telah meredusir posisi Azhar yang berorientasi supralokal menjadi lembaga yang berwawasan sempit dikarenakan ling­kup politik dinasti Ayyubi yang bercorak lokal. Hanya karena peranan Kairo yang strategis dalam perjalanan sejarah Islam memang posisi Azhar yang antar bangsa akhirnya bisa diperoleh kembali dan di­pertahankan, khususnya pada zaman mo­dern.Dengan munculnya “Dinasti Budak” (Mamluk) pada paruh kedua abad ke-13, keberadaan dan peranan Azhar menjadi lebih terasa karena faktor sosial politik dan administratif.

Advertisement