Advertisement

Akidah   adalah keyakinan atau kepercayaan.Secara harfiah berarti “yang terbuhul” atau “yang terpaut” di hati. Ia tidak lain dari apa yang diyakini oleh hati, atau ide yang diterima dengan rasa yakin dan pasti oleh hati sebagai ide yang benar (sesuai dengan kenyataan) atau ide yang baik (menghasilkan kebaikan, bila diamal­kan).

Rasa yakin atau rasa pasti pada hati ti­daklah menjadi jaminan tentang benar atau baiknya suatu akidah, karena dalam masalah akidah banyak sekali terdapat pertentangan antara suatu akidah dengan akidah yang lain. Sebagai contoh, akidah orang beragama bahwa alam ini diciptakan Tuhan bertentangan dengan akidah kaum materialis bahwa alam ini tidak dicipta­kan. Mustahil bahwa dua akidah yang ber­tentangan itu sama-sama benar. Mestilah salah satunya benar dan lawannya salah. Jadi ada akidah yang sungguh-sungguh be­nar, kendati ditolak oleh sebagian manu­sia, dan ada pula akidah yang sungguh­sungguh salah, kendati diterima dengan ra­sa yakin dan pasti oleh sebagian orang.

Advertisement

Term akidah sering dipakai oleh para ulama dengan artinya yang lebih sempit, yakni terbatas pada hal-hal yang abstrak (tentang kenyataan) saja, tidak mencakup hal-hal praktis (tentang apa yang seharus­nya diperbuat manusia). Dengan arti itu pula dipakai term 71m al-`Aqrdd

miyyat (ilmu tentang akidah-akidah Is­lam), yakni ilmu yang membicarakan se­perangkat akidah, yang rumusannya dida­sarkan pada al-Quran dan Hadis Nabi, se­perti akidah tentang keesaan Allah, kera­sulan para rasul-Nya,(termasuk kerasulan Nabi Muhammad), kewahyuan kitab-kitab­Nya (termasuk kewahyuan al-Quran), ada­nya para malaikat, adanya Hari Akhirat, dan adanya ketentuan-ketentuan yang su­dah ditakdirkan-Nya.

Akidah-akidah dalam Islam dapat diba­gi ke dalam dua kelompok besar, yaitu akidah-akidah dasar, yang rumusannya da­pat diterima dengan sepakat oleh segenap ulama, dan akidah-akidah cabang, yang ru­musannya tidak bisa mereka terima de­ngan sepakat. Contoh akidah dasar dalam Islam adalah “Tuhan menciptakan alam ini”, sedang akidah cabangnya adalah “Ia menciptakannya dari tidak ada menjadi ada” atau “Ia menciptakannya secara emansi”. Contoh lain akidah dasar dalam Islam adalah “Tuhan mengetahui segala sesuatu” sedang akidah cabangnya adalah “pengetahuan-Nya itu tidak lain dari esen­si (zat)-Nya”, atau “pengetahuan-Nya ter­sebut bukanlah esensi-Nya, tapi sifat-Nya”.

Jumlah akidah-akidah dasar, yang dise­pakati itu, cukup banyak, dan pada ma­sing-masing akidah dasar itulah tumbuh akidah-akidah cabang yang berbeda, seper­ti tumbuhnya banyak cabang dari setiap pohon yang ada. Siapa pun akan dipan­dang kafir, bila menolak salah satu dari akidah-akidah dasar dalam Islam, tapi ti­dak akan menjadi kafir manakala meya­kini atau menqlak suatu akidah cabang, yang tidak pernah disepakati itu. Status kafir hanya boleh diberikan kepada orang yang menolak akidah dasar dalam Islam.

Term akidah dalam arti yang lebih luas dapat dipakai dan memang kadang-kadang dipakai orang. Ia tidak terbatas pada hal­hal abstrak di atas, tapi juga mencakup hal-hal praktis, sehingga dapat .dikatakan bahwa setiap mukmin haruslah memiliki akidah yang benar tentang apa yang wajib, yang terlarang, dan yang boleh ia lakukan (dalam lapangan ibadat dan muamalat). Dalam lapangan praktis ini, juga terdapat akidah-akidah dasar, yang disepakati, dan akidah-akidah cabang, yang tidak disepa­kati. Akidah tentang wajibnya salat lima waktu, zakat, puasa Ramadan, dan naik Haji, misalnya, disepakati, dan siapa yang menolak apa yang disepakati itu, tentu ja­tuh menjadi kafir.

Sebagai contoh yang lain, dapat dikata­kan bahwa semua ulama memiliki akidah (keyakinan) yang sama bahwa Allah telah mengharamkan riba. Siapa yang menolak akidah yang disepakati itu, tentu dipan­dang kafir. Tapi harus diingat bahwa ula­ma tidak memiliki akidah yang sama ten­tang berapa besarnya riba yang diharam­kan; mereka juga tidak memiliki akidah yang sama tentang masuknya bunga-bank, besar atau kecil, dalam kategori riba yang diharamkan. Dalam bidang ini, menerima atau menolak akidah yang tidak disepakati oleh ulama, tidaklah menyebabkan jatuh­nya seseorang kepada kekafiran.

Akidah, baik dalam arti terbatas dan lebih-lebih dalam arti yang lebih luas tadi, jelas merupakan pendirian batin, yang menjadi dasar bagi tumbuhnya sikap dan amal perbuatan lahiriah. Akidah yang be­nar akan melahirkan perbuatan yang be­nar, dan akidah yang tidak benar akan me­lahirkan perbuatan yang tidak benar pula. Atas dasar itulah dipahami bahwa pro­blema akidah merupakan problema paling penting dan primer dalam kehidupan ma­nusia. Islam datang, tidak lain untuk me­ngembalikan manusia kepada akidah-aki­dah yang benar yang, bila terpaut kuat da­lam hati umat manusia, niscaya mengge­rakkan mereka untuk mengaktualkan amal-amal saleh dan akhlak-akhlak yang terpuji, demi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Advertisement