Advertisement

Akhlak   ini merupakan bentuk jamak dari kata khulq dalam bahasa Arab. Ia mempunyai akar kata yang sama de­ngan kata-kata Khaliq (Pencipta, yakni Tuhan) dan makhli7q (yang diciptakan, yakni segala sesuatu selain Tuhan), dari kata khalaqa (menciptakan). Dengan de­mikian, kata khulq dan akhlq selain me­ngacu kepada konsep “penciptaan” atau “kejadian” manusia, juga mengacu kepa­da konsep penciptaan “alam semesta” se­bagai makhlr,iq.

Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hu­bungan antar sesama manusia, melainkan juga norma yang mengatur hubungan an­tara manusia dengan Tuhan dan, bahkan, dengan alam semesta sekalipun. Karena itu, dalam akhlak sudah tercakup etika lingkungan hidup sebagaimana yang te­ngah digalakkan pertumbuhannya, guna menjaga keharmonisan sistem lingkungan akibat proses pembangunan.

Advertisement

Selain itu, dalam akhlak tercakup pe­ngertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khalik dengan perilaku makh­luk, manusia. Dengan kata lain, dalam pengertian ini, tata perilaku seseorang ter­hadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlak yang hakiki, ma­nakala suatu tindakan atau perilaku terse­but didasarkan kepada kehendak Khalik, Tuhan. Dengan demikian, sesungguhnya akhlak telah mengatasi hukum syariat yang lebih mengacu kepada norma perila­ku lahiriah. Apa yang baik menurut sya­riat belum tentu baik menurut akhlak. Se­baliknya, apa yang baik menurut akhlak sering tidak terlihat oleh syariat. Misalnya, seseorang yang secara lahiriah telah mela­kukan ibadat salat, tidak berarti ia sudah pasti orang baik menurut akhlak. Dengan kata lain, akhlak lebih melihat motivasi suatu tindakan, sedangkan syariat lebih melihat bentuk praktisnya. Karena itu,me­nurut akhlak segala motivasi tindakan ha­rus diacukan kepada Tuhan (ikhlas).

Advertisement