Advertisement

Akal berasal dari kata Arab al-`aql, yang mengandung arti mengikat, menahan, me­mahami, dan bijaksana. Dalam pemaham­an para ulama, ia bukanlah daya yang di­miliki oleh otak, tapi merupakan daya jiwa (roh) yang berfungsi memahami atau mengetahui nilai-nilai etis (baik buruk) dan epistemologis (benar salah) serta ber­fungsi berdasarkan pemahaman itu meng­ikat, menahan, atau mengendalikan hawa nafsu sedemikian rupa, sehingga berhasil mengangkat manusia menjadi makhluk yang bijaksana.

Akal itu ada secara potensil pada setiap bayi manusia tapi tidak ada pada bina­tang. Akal itulah yang menyebabkan ma­nusia jauh lebih unggul dari binatang, dan karena memiliki akal itulah maka manusia diberi Tuhan tanggung jawab besar untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan di permukaan bumi ini. Akal yang ada secara potensil pada setiap bayi manusia itulah yang harus diaktualkan semaksimal mung­kin, agar ia dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Dengan demikian, manusia yang menjadi pemilik akal tersebut ber­oleh pujian .sebagai khalifah Tuhan seperti yang diharapkan. Bila akal itu tidak ber­fungsi dengan baik, tapi terseret oleh do­rongan hawa nafsu, maka manusia pemi­liknya jatuh menyerupai binatang, bahkan lebih sesat dan berbahaya dari binatang.

Advertisement

Dalam pemikiran para filosof muslim, dikatakan bahwa wujud rohani (imateri) yang selamanya terpisah dari, atau tidak berada dalam materi (fisik), disebut akal. Dengan demikian Tuhan dan para malai­kat-Nya disebut akal-akal, yang selamanya aktual dan aktif. Tuhan adalah Akal Ma­hasempurna, yang maha sempurna penge­tahuan-Nya, yang mengetahui diri-Nya dan segenap alam; bahkan pengetahuan­Nya menjadi sebab bagi terciptanya sege­nap alam itu. Para malaikat merupakan akal-akal yang berbeda tingkat kesempur­naannya. Yang paling dekat denga.n Tuhan berarti paling mendekati kesempurnaan Tuhan.

Wujud rohani yang berada dalam jasad disebut jiwa. Ada jiwa tumbuh-tumbuh­an, ada jiwa binatang, dan ada pula jiwa manusia. Dari ketiga macam jiwa itu, ha­nya pada jiwa manusia terdapat akal po­tensil, yakni akal yang pada mulanya ha­nya ada secara potensil pada jiwa manu­sia. Baru setelah dibantu oleh kegiatan persepsi inderawi, lambat laun mengaktual akal praktis, yang dapat membedakan ni­lai-nilai yang baik dari yang buruk serta dapat mengendalikan hawa nafsu badan, dan selanjutnya mengaktual akal teoritis, yang mampu menangkap makna-makna umum (esensil) dari aneka ragam realitas empiris. Bila telah banyak menguasai mak­na-makna umum sebagai hasil pengamatan dan pemikiran terhadap dunia empiris itu, maka terbuka pulalah kemungkinan meng­aktualnya akal mustafad (perolehan), yak­ni akal yang mampu berhubungan dengan akal aktif Jibril, dan menerima darinya ide-ide tentang wujud-wujud rohani, ter­masuk tentang Tuhan. Mereka yang mem­peroleh akal mustafad melalui studi empi­ris yang keras dan proses terbiasa merni­kirkan hal-hal yang abstrak, disebut filo­sof, yang keunggulannya lebih rendah dari nabi. Nabi lebih istimewa dari filosof, ka­rena nabi tanpa latihan dan bersusah pa­yah seperti filosof, dianugerahi akal mus­tafad dan menerima pedoman-pedoman kehidupan bagi masyarakat manusia dari Tuhan melalui akal aktif Jibril. Semakin sempurna aktualisasi akal pada jiwa manu­sia semakin sempurna pula kenikmatan atau kebahagiaan yang dirasakan oleh ma­nusia itu. Kenikmatan hakiki itu, menurut para filosof muslim, adalah kenikmatan akli, yang bersifat abadi, bukan kenikmat­an jasadi, karena bersifat temporal.

Dalam pandangan para sufi, fungsi akal itu terbatas pada memahami kenyataan­kenyataan empiris. Pengetahuan akli me­mang lebih tinggi dari pengetahuan indera­wi, tapi akal tidak mampu memperoleh pengetahuan hakiki tentang Tuhan dan kenyataan-kenyataan metafisik lainnya, seperti pengetahuan hakiki tentang lebih banyaknya sepuluh dari delapan. Penge­tahuan hakiki tentang Tuhan dan kenyata­an-kenyataan metafisik dapat diperoleh manusia, tidak dengan deduksi atau in­duksi akal, tapi melalui penyaksian hati nurani yang suci. Bila hati nurani suci, dan bila tirai yang menutupi kenyataan metafisik dibukakan Tuhan, barulah ma­nusia memperoleh pengetahuan hakiki. Yang menerima pengetahuan hakiki itu bukanlah filosof yang tajam akalnya, tapi para nabi dan para sufi, yang suci hati nu­raninya (hati nurani nabi lebih suci dan le­bih tajam dari hati nurani sufi)

Advertisement