Advertisement

Ahlul Kitab secara harfi berarti kaum yang memiliki kitab (kitab-suci agama). Ungkapan Ahlul Kitab itu tercantum se­banyak 30 kali dalam al-Quran, sebagian­nya mengacu kepada kaum Yahudi (dalam al-Quran disebut: Hud, YahFid, atau allazi na dan sebagian lagi mengacu kepa­da kaum Nasrani atau Kristen (dalam alr Quran disebut: Nasffini atau Nastiffi).

Ketika Nabi Muhammad diangkat men­jadi rasul Tuhan untuk menegakkan Islam, koloni-koloni kaum Ahlul Kitab sudah terdapat di. jazirah Arabia. Kaum Ahlul Kitab Yahudi cukup kuat di Yasrib (Madi­nah) dan Khaibar, sedang Ahlul Kitab Nasrani di Najran. Karena ada upaya-upa­ya mereka untuk mengajak orang-orang Mekah agar memeluk Yahudi atau Kris­ten, maka orang-orang Mekah sebelum munculnya Islam, kendati mereka pada umumnya tidak tertarik kepada kedua agama itu, telah mengenal sedikit banyak ide-ide keagamaan dan tradisi yang hidup di kalangan Ahlul Kitab yang berada di ja­zirah Arabia.

Advertisement

Ada ahli yang berkesimpulan bahwa se­lain beberapa individu yang beragama de­ngan agama hanif, juga terdapat di Mekah beberapa individu yang menganut Nasrani atau Yahudi. Ia menyimpulkan dari bebe­rapa ayat al-Quran yang diturunkan sebe­lum Hijrah bahwa Ahlul Kitab yang me­ngenal al-Quran (26:197), bergembira de­ngan turunnya ia (13:36), dan mengirnani­nya (11:17 dan 29:47) adalah Ahlul Kitab yang berada. di Mekah,

Setelah Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya hijrah ke Madinah, Ahlul Ki­tab Yahudi yang berada di ko.ta itu diajak oleh Nabi untuk hidup berdampingan se­cara damai dan saling membantu dengan kaum muslimin. Ahlul Kitab Nasrani di Najran, yang melihat musuhnya (Yahudi) hidup berdampingan dengan Nabi, berupa­ya pula datang ke Madinah, untuk mem­bina hubungan dengan Nabi. Tergambar dalam al-Quran bahwa kedua golongan Ahlul Kitab itu saling menjelekkan; Yahu­di berkata bahwa Nasrani itu tidak benar, dan Nasrani pun mengatakan bahwa Ya­hudi itu tidak benar (2:113).

Dari keterangan-keterangan al-Quran terlihat adanya berbagai sikap dan pendiri­an di kalangan Ahlul Kitab, yang pernah berhubungan atau berdialog dengan Nabi Muhammad. Al-Quran (3:13) menunjuk­kan adanya segolongan yang bersikap lu­rus dan membaca ayat-ayat Allah dalam keadaan bersujud di tengah malam. Surat 3:199 menggambarkan adanya segolongan mereka, yang beriman dengan Allah, ber­iman dengan wahyu yang diturunkan un­tuk kaum muslimin, dan wahyu yang te­lah diturunkan untuk mereka; mereka khusyuk kepada Allah, tidak menjual ayat­ayat Tuhan dengan harga yang murah; me­reka memperoleh pahala dari Allah. Se­dang surat 5:82-83 menyebutkan adanya segolongan Ahlul Kitab Nasrani yang sa­ngat bersahabat dengan kaum muslimin; mereka itu adalah para pendeta dan para rahib; mereka tidak sombong, dan bila mereka mendengar ayat-ayat al-Quran, maka air mata mereka mengalir karena mengetahui kebenaran alAQuran itu; mere­ka berkata: “Ya Tuhan kami, kami ber­iman, dan tuliskanlah bahwa kami tern3a­suk orang-orang yang menyaksikan kebe­naran.”

Di samping wajah positif di atas, ada pula wajah negatif dari Ahlul Kitab, yang justru lebih banyak tergambar dalam al­Quran. Disebutkan antara lain bahwa Ya­hudi dan Nasrani itu tidak akan pernah se­nang kepada Nabi Muhammad, sebelum Nabi ini mengikuti agama mereka (2:120); orang-orang Yahudi mengatakan kepada kaum kafir Mekah bahwa kaum kafir Me­kah itu lebih benar dari kaum muslimin (4:51); dan kebanyakan Ahlul Kitab itu dengki kepada kaum muslimin serta meng­inginkan kaum muslimin menjadi murtad (2:105). Kaum Yahudi di Madinah, kare­na sejumlah aksi permusuhan dan peng­khianatan mereka terhadap kaum musli­min, akhirnya dihukum dan diusir semua­nya oleh Nabi dari kota itu (627/5 H).

Terhadap pandangan sempit kaum Ya­hudi bahwa yang akan masuk surga hanya orang-orang Yahudi dan pandangan sem­pit kaum Nasrani bahwa yang akan masuk surga itu hanyalah orang-orang Nasrani (2:111), al-Quran memperingatkan bahwa orang-orang Yahudi tidak akan berada di atas kebenaran sebelum mereka menga­malkan Taurat, dan begitu pula orang­orang Nasrani, sebelum mengamalkan Injil (5:68). A1-Quran mengingatkan bahwa si­kap beragama yang terbaik adalah menun­dukkan wajah kepada Allah dan berbuat baik (4:125); intisari agama adalah taat se­penuhnya (isltun) kepada Allah (3:19). Al­Quran menunjukkan bahwa keselamatan manusia di dunia dan akhirat ditentukan oleh keimanan kepada Allah dan hari Akhirat serta amal saleh: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman (kaum musli­min), orang Yahudi, orang Nasrani, dan Sabiin, siapa saja (dari mereka) yang ber­iman dengan Allah, hari Akhirat, dan ber­amal saleh, niscaya mereka diberi Tuhan pahala; mereka tidak ditimpa ketakutan dan tidak akan bersedih (2:62).

Terhadap non-muslim (termasuk Ahlul Kitab), al-Quran memanggil supaya meng­ikuti Islam, karena inilah agama yang ter­baik. Siapa yang mau beriman silakan ber­iman, siapa yang mau kafir, silakan kafir (18:29), tidak ada paksaan beragama (2: 256), dan tidak ada halangan bagi kaum muslixnin untuk berbuat baik dan mene­gakkan persahabatan dengan non-muslim, selama kaum muslimin tidak dimusuhi (60:8-9).

Bila al-Quran melarang pria muslim un­tuk menikahi perempuan musyrik (2:221), maka pada prinsipnya al-Quran membo­lehkan pria muslim menikahi perempuan Ahlul Kitab (5:5), tapi bila akal sehat me­lihat bahwa perkawinan antaragama meru­gikan atau menyebabkan pihak muslim cenderung menjadi murtad, maka perlu perkawinan antaragama itu dilarang. Ma­kanan Ahlul Kitab juga halal bagi muslim, kecuali kalau makanan itu mengandung babi, atau makanan haram lainnya:

Mengingat rasul yang diutus Tuhan ada pada setiap umat, maka sebutan Ahlul Ki­tab itu tidak harus dibatasi pada kaum Ya­hudi dan Nasrani. Orang-orang Majusi, Hindu, dan umat lain yang meyakini kitab sucinya berasal dari Tuhan, dapat dipan­dang dan diperlakukan sebagai Ahlul Ki­tab. Sebutan Ahlul Kitab tidak mesti me­ngandung arti bahwa kitab suci mereka masih asli wahyu.

Advertisement