Advertisement

Ahlul Bait berarti “anggota keluarga”. Al-Quran (33:33) secara khusus meng­identifikasi keluarga dan keturunan Nabi. Istilah ini identik dengan ahl al-bait dan juga (keluarga Nabi Mu­hammad). Namun batasan siapa yang ter­masuk ahlul bait ini menjadi sumber kon­troversi khususnya di kalangan Syi`ah, yan,g menganggap kepemimpinan umat berada pada ahlul bait. Memang sepening­gal Nabi untuk periode yang cukup lama keluarganya tak mendapatkan hak istime­wa apa pun dalam tatanan kepemimpinan umat.

Perbedaan interpretasi tentang ahlul bait dapat dibagi secara umum menjadi dua aliran. Syi`ah Imamiah membatasisi ah­lul bait hanya kepada keturunan Nabi saja, yang berarti keturunan Fatimah dengan Ali. Kelompok lain mendasarkan keang­gotaan ahlul bait kepada keterkaitan ang­gota keluarga dalam urusan warisan baik 2awul arhdin maupun `ascrbat, sehingga le­bih meluaskan keanggotaan keluarga Nabi. Walaupun kadang-kadang ini mencakup semua keturunan Hasyim atau bahkan Qu­raisy secara umum dan kadang-kadang ma­lahan menjangkau “para ahli Ka’bah” yaitu seluruh umat Islam. Memang definisi ahlul bait ini menjadi begitu rancu teruta­ma akibat relevansinya dengan legitimasi kepemimpinan umat. Secara tradisional je­las bahwa ahlul bait berarti anggota ke­ luarga sebuah rumah tangga (somah). Ke­lihatannya hal ini pun berlaku bagi keluar­ga Nabi dalam pengertian keturunannya lewat Fatimah sehingga tak menjadi bahan perselisihan samp2i sepeninggal Hasan bin Ali. Namun munculnya pendukung Ali yang ekstrim dan kegagalan-kegagalan me­reka merealisir kepemimpinannya yang ideal memungkinkan berkembangnya in­terpretasi baru tentang ahlul bait. Umpa­manya, dalam usahanya memperoleh legi­timasi dalam protesnya terhadap rezim Umayyah, Mukhtar as-Saqafi (w. 687/67 H) memproklamirkan kepemimpinan Mu­hammad bin, al-Hanafiyah, anak Ali de­ngan seorang wanita diri Bani Hanifah bu­kan dengan Fatimah. Ini berarti bahwa ahlul bait telah diperluas pengertiannya sehingga seorang yang bukan keturunan Fatimah dianggap menerima wasiat kepe­mimpinan urriat.

Advertisement

Perkembangan yang terpenting dalam konteks ini ditandai dengan pengakuan Muhammad bin Ali al-Abbasi bahwa ia te­lah menerima wasiat kepemimpinan dari Abu Hasyim, anak Muhammad bin al-Ha­nafiyah, sebagai pemimpin gerakan Hasyi­miyah. Memang legitimasi kepemimpinan gerakan Abbasiyah (al-da`wat al-Abbsi­yah) sampai dengan masa akhir pemerin­tahan al-Mansur, khalifah Abbasiyah ke­dua, didasarkan semata-mata atas wasiat Abu Hasyim tersebut. Ide bahwa kepe­mimpinan mereka berasal dari hak nenek moyang mereka, al-Abbas bin Abdul Mu­talib, sebagai paman Muhammad dalam mewarisi kepemimpinan dari Nabi baru dikembangkan pada masa akhir kekhali­fahan al-Mansur (w. 775/158 H). Yang menarik, masa dari invensi ini bersamaan dengan gerakan ahlul bait yang dipimpin oleh keturunan Hasan bin Ali, Muhammad an-Nafs az-Zakiyah (w. 145/762). Dengan menggunakan dalih hubungan kekerabat­an al-Abbas, sebagai paman Nabi, memang dinasti Abbasiyah telah melebarkan makna ahlul bait dan juga berhasil mengklaim hak kepemimpinan mereka langsung dari Nabi. Ahlul bait karenanya bukan hanya berarti keturunan tapi hubungan kekera­batan yang kelihatannya didukung oleh konsep hukum warisan dalam Islam. Dalam konteks populer ahlul bait tetap mempunyai arti keluarga dan keturunan Nabi sebagai terlihat dalam ucapan sala­wat dan salam dari umat Islam secara umum, tetapi dalam kaitan legitimasi ke­pemimpinan, golongan Abbasiyah pasca periode al-Mansur telah memberinya mak­na yang lebih luas yaitu semua kerabat Nabi dari urutan laki-laki. Sebab paman­paman Nabi kecuali al-Abbas meninggal sebelum Nabi sendiri, menurut kebiasaan, Bani Abbas memang mempunyai posisi terkuat dalam hubungan kekerabatan dan warisan dengan Nabi.

Advertisement