Advertisement

Aglabiyah, Aspek yang menarik pada sejarah dinas­ti ini adalah ekspedisi lautnya yang menje­lajahi pulau-pulau di Laut Tengah dan pantai-pantai Eropa. Para penguasa dinasti ini mengobarkan semangat perang mela­wan orang-orang yang berada di seberang utara Laut Tengah. Mereka bangun arma­da yang tangguh, untuk menjaga pantai Tunisia dari serangan Bizantium, Piza, dan Franka, bahkan untuk menjadi raja lautan selama satu abad.

Pulau yang terdekat dari Tunisia, yakni Sisilia, diserang oleh ekspedisi Aglabiyah, di bawah pimpinan Panglima Asad bin Fu­rat, pada 827 (212 H). Inilah ekspedisi laut terbesar yang pernah dipimpin Asad bin Furat, dengan armada laut, 900 tentara berkuda, dan 10.000 orang pasukan jalan kaki. Mereka mendarat di Mazorra dan menaklukkannya. Kendati tidak mudah menaklukkan seluruh Sisilia, dan Panglima Asad bin Furat tewas dalam pertempuran, serangan bergelombang pasukan Aglabi­yah menyebabkan jatuhnya satu demi sa­tu kota atau benteng di Sisilia: Palermo, Castrogiovonni, Girgento, Catania, Messi­na, dan lain-lain, ke tangan dinasti ini. De­ngan jatuhnya Syracuse (878/264 H), pe­naklukan seluruh pulau Sisilia itu oleh Di­nasti Aglabiyah menjadi sempurna.

Advertisement

Dari Sisilia, sebagai markas dan basis, serangan-serangan dinasti ini ditujukan ke pulau-pulau lainnya dan pantai-pantai Eropa. Pasukan dinasti ini berhasil menak­lukkan kota-kota pantai Itali: Brindisi (836/221 H), Napoli (837/222 H), Cala­bria (838/223 H), Toronto (840/225 H), Bari (841/226 H), dan Benevento (842/ 227 H). Tercatat bahwa Brindisi dikuasai dinasti ini sampai 866/253 H (31 tahun), Bari sampai 871/258 H (37 tahun), dan Toronto sampai 880/265 H (40 tahun). Karena serangan yang berkepanjangan ter­hadap bandar-bandar Itali, termasuk kota Roma, maka Paus Yohannes VIII (872— 882) tidak tahan dan terpaksa minta per­ damaian, dengan meminta pasukan Agla­biyah meninggalkan wilayah sekitar Ro­ma, dan bersedia membayar upeti kepada pihak Aglabiyah sebanyak 25,000 uang perak per tahun. Pasukan dinasti ini juga menguasai kota Regusa di pantai Yugosla­via selama 15 tahun (dari 866/253 H), menguasai pulau Malta X869/258 H), me­nyerang pulau Corsika dan Mayorka, dan bahkan menguasai kota Portofino, di pan­tai barat Itali paling utara selama 85 tahun (dari 890/257 H sampai 975/360 H). Kota Athena pun di Yunani berada dalam jang­kauan penyerangan mereka, sehingga orang-orang Arab pernah bermukim di se­kitar kota itu sampai awal abad ke-10.

Dengan keberhasilan dalam penaklukan­penaklukan di atas, Dinasti Aglabiyah menjelma menjadi dinasti yang kaya raya. Para penguasa bergairah membangun Tu­nisia dan Sisilia. Ziadatullah I membangun mesjid agung yang megah di Qairuan, ibu­kota Dinasti Aglabiyah. Kemegahan Mes­jid Agung Qairuan itu dapat menandingi kemegahan mesjid-mesjid di dunia Islam belahan timur. Amir yang paling bersema­ngat membangun adalah Amir Ahmad. Di samping membangun mesjid yang megah, ia juga membangun hampir 10.000 ben­teng pertahanan di Afrika Utara, dengan konstruksi batu dan mortar, serta gapura besi. Jalan-jalan, pos-pos, dan armada ang­kutan dikembangkan dengan baik, sehing­ga perhubungan dan perdagangan berjalan lancar dan ramai. Arsitektur berkembang seperti yang terdapat di Mesir, Syam, Irak, dan lain-lain. Demikian pula halnya de­ngan ilmu, seni, dan kehidupan beragama.

Qairuan, sebagai ibukota, muncul men­jadi pusat terpenting mazhab Maliki, meng­gantikan kedudukan Madinah. Di kota itu berkumpul ulama-ulama terkemuka, se­perti Sahnun (w. 854/240 H), pengarang Mudawwanat, kitab fikih Maliki yang pen­ting), Yusuf bin Yahya (w. 901/288 H), Abu Zakaria al-Kinani (w. 902/289 H), dan Isa bin Muslim (w. 908/295 H). Kar­ya-karya mereka dan para ulama lainnya yang berasal dari masa dinasti ini tersim­pan baik di Mesjid Agung Qairuan.

Setelah berjaya ± satu abad, dinasti ini, karena amir terakhirnya tenggelam dalam foya-foya dan lebih dari separuh pembe­sarnya tertarik kepada Syi`ah, akhirnya di­kalahkan oleh Dinasti Fatimiyah (909/ 296 H).

Advertisement