Advertisement

Adat Dari kata Arab adat yang berarti kebiasaan. Adat kata benda dari kata kerja `dda (kembali).. Dinamakan kebiasaan itu adat, karena ia sesuatu yang dikerjakan berulang kali.

Dalam hukum fikih dipakai juga istilah adat yang biasa juga disebut `uruf (sesuatu ketentuan mengenai cara yang telah dibia­sakan sesuatu masyarakat di suatu tempat dan rnasa, yang tidak ada ketentuannya secara jelas dalam al-Quran dan Sunnah). Seperti sesuatu cara yang biasa digunakan dalam menyatakan suka sama suka (tarrl­4in) atau ijab kabul (ikrar timbang terima) dalam suatu transaksi jual beli. Adanya rafaclin dan ijab-kabul dimestikan oleh hu­kum perdata Islam, tetapi caranya terse­rah kepada kebiasaan sesuatu negeri dan sesuatu masa. Dalam hal ini adat, cara dan kebiasaan yang tidak melanggar atau tidak bertentangan dengan prinsip huktim Is­lam, dapat dibenarkan dan diakui sebagai hukum Islam juga. Di sini kaidah fikih al-Vdah muhakkamah (adat kebiasaan itu merupakan sesuatu yang ditetapkan seba­ gai hukum) berlaku sebagai pedoman. Hu­kum yang didasarkan atas adat (uruf) itu akan berobah apabila adat (uruf) itu be­robah. Sebab itu banyak perbedaan pen­dapat antara fukaha (ahli-ahli hukum Is­lam) yang disebahkan oleh perobahan atau perbedaan adat (uruf).

Advertisement

Sebuah contoh klasik yang memperli­hatkan pengaruh perobahan adat atas pero­bahan hukum dapat dikemukakan bahwa uruf pada masa Abu Hanifah tidak meng­gemari warna hitam, sehingga pencelupan suatu pakaian dengan warna hitam adalah mengurangi nilai pakaian tersebut di pa­saran. Sebab, itu ia menetapkan bahwa apabila seorang perampas pakaian kemu­dian mencelupnya dengan warna hitam, maka pemilik pakaian dapat menuntut satu antara dua; meminta ganti harga pa­kaian itu sebelum dicelup, atau menuntut pengembalian pakaian itu sendiri dan di­tambah dengan ganti rugi yang disebabkan pencelupan itu. Tetapi kemudian pada masa berikutnya adat itu berobah, sehing­ga pencelupan dengan warna hitam me­nambah nilai pakaian itu di pasaran. Se­bab itu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani menetapkan dalam ka­sus yang serupa bahwa pemilik pakaian boleh membiarkan pakaian itu tetap pada si perampas serta meminta harga pakaian sebelum dicelup, atau meminta kembali pakaian itu dengan kewajiban membayar harga pencelupan kepada si perampas.

Adat dalam ilmu masymilcat berarti sesuatu yang telah menjadi kebiasaan tu­run temurun berurat berakar dalam ka­langan suatu bangsa atau suku. Ia meliputi lapangan kepercayaan, peribadatan dan keduniawian. Dalam lapangan kepercaya­an dan peribadatan Islam tidak dapat menerima adat. Adapun dalam lapangan keduniawian, maka adat kebiasaan, cara, upacara dan tradisi yang bagaimanapun, dibolehkan oleh islam, asalkan tidak ber­tentangan dengan pokok-pokok ajaran Is­lam, terutama tauhid yang murni. Bila bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam, maka wajib ditinggalkan.

Advertisement