Advertisement

Alat Demarkatif yang Lain, Ciri demarkatif selain tekanan dapat ditampilkan oleh fonem, atau varian fonem, atau ciri tak distingtif, atau oleh kelompok fonem yang di dalam bahasa yang diselidiki itu, hanya muncul di awal atau di akhir kata atau satuan bermakna lain: /h/ dalam bahasa Inggris adalah sekaligus fonem dan tanda demarkatif: sebuah kata pungutan seperti mahagony ‘mahoni’ disesuaikan dengan skema kata behavior-. ist di mana be- diikuti oleh perbatasan monem. Hamzah [‘] dalam bahasa Jerman biasanya merupakan tanda demarkatif tak distingtif. Dalam bahasa Tamil, fonem yang transkripsinya /p t k/ tidak ber­aspirasi di awal kata. Dalam bahasa Jerman, suatu kombinasi fonern seperti /-nm-/ hanya dapat hadir jika terjadi pertemuan dua monem, dalam unmoglich misalnya. Di dalam bahasa Indonesia hamzah [‘] hanya terdapat di akhir kata, misalnya dalam becak.

Kita hanya dapat berbicara tentang tanda demarkatif negatif apabila sebuah fonem, varian, atau sekelompok fonem tidak pernah muncul di tengah kata atau monem; misalnya fonem /d/ dan dalam bahasa Suomi. Dalam bahasa itu Pula /m/ tidak pernah ber­ada di akhir kata dan hanya muncul di awal kata di depan vokal. Itu berarti bahwa kombinasi /mk/ hanya mungkin muncul di tengah kata.

Advertisement

Dialek Perancis Selatan di Hauteville merupakan contoh yang baik di mana tekanan yang tempatnya tidak benar-benar tetap, dan tidak merupakan batas kata, dapat berkombinasi dengan ciri-ciri lain untuk memberikan demarkasi yang sempurna. Tekanan dalam dialek Hauteville dapat berada di suku akhir kata, seperti dalam /po’ta/ ‘ceruk’, /be’re/ ‘jepit rambut’ atau /pe’io/ ‘kayu penopang tanaman’, atau di suku kata sebelum yang terakhir, seperti dalam /’fata/ ‘kan­tong’, atau /’bere/ ‘minum’, dan tidak memungkinkan untuk menge­tahui di mana akhir suatu kata. Meskipun demikian, jika tekanan jatuh di suku kata terakhir, vokal (yang selalu di akhir atau diikuti oleh /r/) sangat pendek, sehingga jika vokal itu secara fonologis tidak pendek, seperti dalam /perio/, akan menjadi pendek seperti dalam /pO’ta/ atau /be’re/. Tetapi, jika tekanan jatuh sebelum suku kata akhir, vokal pada suku kata itu sangat diperpanjang jika secara fonologis vokal pendek, seperti dalam /’berg/ yang dilafalkan [‘be:ra]. Jika vokal .itu secara fonologis pendek, konsonan ber­ikutnyalah yang diperpanjang, bahkan digandakan: jadi /pO’t5./ di­lafalkan [po’ta] dengan [t] pendek, sedangkan Plata/ dilafalkan [‘fatta] dengan [t] yang meluas ke kedua belahan suku kata. Itu ber­arti bahwa tekanan yang tidak mengakibatkan pemanjangan apa pun, menandai suku kata terakhir dari kata, sedangkan tekanan yang disertai pemanjangan, baik vokal atau pun konsonan berikutnya, me­nandai suku kata sebagai akhir kata.

 

Advertisement