Advertisement

Ada berapa aspekkah ideologi itu?, Ada empat aspek dari ideologi yang terpenting, yaitu: Sumber ideologi politik yang unggulPenyebaran ideologi.

Fungsi ideologi sebagai suatu alat pengawal sosial,Perhubungan antara ideologi dengan organisasi politik.

Advertisement

Ideologi juga dilihat pada sasarannya sebagai suatu cara hcifikir yang menjelaskan kepentingan dan pandangan istimewa wsuatu kumpulan sosial tertentu. Ideologi selalu dipengaruhi oleh. .,osioekonomi sesuatu kumpulan. Ideologi timbul karena kehendak amani manusia untuk membentuk peraturan intelektual di dalam masyarakat dunia.

Sebagaimana telah diungkapkan, nilai-nilai dasar yang terkandung dalam suatu ideologi sangat diwarnai oleh hasil pcmikiran mereka yang melahirkannya itu tentang realitas inasyarakatnya di masa lalu, di samping visi mereka di masa depan. Pengertian dan analisa mereka tentang nilai dasar keadilan sosial, umpamanya, tentunya amat berkaitan dengan suasana dan kondisi masyarakat yang mungkin sekali sudah amat jauh berbeda atau herlainan. Oleh sebab itu, pengertian dan analisa tentang keadilan sosial tidak sesuai lagi, dan mungkin tidak bersentuhan sama sekali, dengan realita baru. Hal ini akan mengakibatkan bertambah kaburnya pengertian masyarakat tentang nilai-nilai dasar itu, yang lambat laun menjuruskannya menjadi tidak bermakna sama sekali. Kalau maknanya sudah hilang, masyarakat tidak akan memperdulikannya. Akibatnya, masyarakat akan bersifat apatis terhadapnya, bahkan mungkin akan memandang dan memperlakukannya secara sinis.

Kalau keadilan sosial hendak dipertahankan sebagai salah Yalu nilai dasar dari ideologi, is menuntut pengertian dan analisa baru ;mg mempunyai relevansi dengan suasana dan kondisi masyarakat ;mg sudah jauh berbeda itu. Itu antara lain bisa dilakukan dengan membuka jalan bagi generasi mendatang untuk melahirkan ide-ide

I nterpretasi-interpretasi baru, melalui kemampuan intelektual vain g mcreka punya, tentang nilai dasar yang berkaitan langsung pengertian clan analisa mereka sendiri mengenai realita kehidupan yang mercka hadapi sehari-hari. Int jelas menuntut agar ideologi hams mempunyai lleksibilitas yaitu membuka dirinya untuk diinterpretasikan kembali dari waktu ke waktu sesuai dengan proses perkembangan masyarakat dan kemajuan masyarakat.

Apabila kita teliti secara seksama, pada dasarnya banyak ideologi, termasuk ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang membuka jalan bagi lahirnya interpretasi baru. Kenyataan ini antara lain menunjukkan bahwa mereka yang melahirkan ideologi ini dulu secara jujur mengakui keterbatasan-keterbatasan pemikiran mereka untuk mampu memberikan pengertian dan analisa yang final, yang dapat dipakai secara terus-menerus. Mereka tampaknya mengakui bahwa visi mereka tak mampu menjangkau perkembangan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Oleh sebab itu dengan memberikan peluang seperti di atas, berarti mereka memberikan kesempatan bagi generasi baru untuk memperbaiki atau menyempurnakannya, atau kalau perlu menukarnya sama sekali dengan yang barn (Alfian, 1978:191).

Menurut Alfian (1978:193) ada tiga dimensi yang dapat dipakai untuk melihat dan mengukur kualitas sesuatu ideologi, yaitu kemampuannya mencerminkan realita yang hidup dalam masyarakat, mutu idealisme yang dikandungnya, dan sifat fleksibilitas yang dipunyainya. Ketiga-tiganya, walaupun dapat diteliti secara sendiri¬sendiri, tetap saling berkaitan. Suatu ideologi dapat mengalami krisis bilamana salah satu atau dua atau ketiganya dari dimensi ini menunjukkan kelemahan-kelemahan. Dalam uraian di atas masalah krisis ideologi ini lebih banyak disoroti melalui dimensi fleksibilitasnya. Menurut Laeyendecker (1991: 64-66), dalam sejarah sosiologi terdapat tiga ideologi yang penting yang merupakan bagian dari renungan umum mengenai kehidupan sosial dan politik. Ketiga ideologi itu adalah: Liberalisme, Radikalisme, dan Konservatisme.

Advertisement